Kena Toyor

RSS
Jan
31

Freed Your Imagination

“Logic will get you from A to Z; Imagination will get you everywhere” – Albert Einstein

Kutipan diatas seringkali di dapati wora-wiri di social media. Barangkali sampai bosan kita melihatnya atau malah sudah hapal di luar kepala.

Ada lagi sebuah kutipan dari Nelson Mandela “The Power of Imagination Created The Illusion That My Vision Went Much Farther than The Naked Eye Could Actually See” 

Hanya dalam imajinasi, aku bisa bercinta dengan Zayn Malik. Hanya dalam imajinasi juga, aku bisa berganti pasangan lima kali dalam sehari. Pagi dengan Chris Pine, menjelang jam 12 siang dengan Liam Hemsworth, ketika jam 3 sore bobok-bobok siang dengan John Mayer, sekitar maghrib hangout dengan Ben Affleck, dan seharian penuh lelah itu ditutup ‘kelon’ dengan Benedict Cumberbatch. Dayum!

Coba saja di dunia nyata, mana mungkin mereka ini bercinta dengan kita yang hanya segede kutu gajah. Mana mungkin juga kita berpapasan dengan artis hollywood, toh ke Amerika saja belum pernah.

Hanya di dalam kepala, aku juga bisa memelihara seekor naga dan sepasang monster anjing. Pernah suatu ketika aku bermimpi bertemu seekor monster anjing, ia menatap ku tajam tapi hanya terdiam. Lalu aku kaget dan terbangun.

Hanya di dalam mimpi juga, aku bisa menerbangkan diri dengan baling-baling bambu bersama Doraemon. Beneran lho, bukan hanya bualan namun hanya mimpi semata. Tapi asyik…

Impian dan imajinasi tanpa batas. Gratis, tak berbayar, tak berbiaya, cukup dengan membiasakan diri. Tak merugikan orang lain juga. Syukur-syukur bisa dikaryakan, menyenangkan orang dan menghasilkan uang. Siapa yang tak suka kalau begitu?

Aku bisa berpergian sesuka hati. Pagi di London, siang di Jepang dan malam di Antartika. Bangun keesokan harinya di Norwegia. Bukan, itu bukan pinjam pintu kemana saja nya Doraemon, tapi hanya mengandalkan imajinasi, dan bermimpi.

image source: google

image source: google

Bahkan sewaktu kecil, aku pernah berangan-angan menjadi astronot. Berpergian di luar angkasa, berenang bersama bintang, leyeh-leyeh sembari menatap planet yang aku saja tak hafal namanya. Semua tampak keren!

Namun, tentu butuh waktu untuk merealisasikan semua mimpi. Bahkan mimpi bisa jadi salah satu penyemangat untuk mewujudkan semua itu. Yaaahh, walaupun tak semuanya bisa di realisasikan, tapi setidaknya dua dari lima mimpi bisa menjadi kenyataan. Namun, dengan catatan jika kita berniat untuk merealisasikan.

Teringat kata John Lennon “you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one” rupanya seorang legendaris seperti John Lennon pun juga pernah bermimpi dan mengkhayal. Memang tak pernah salah ketika kita memimpikan sesuatu.

Selamat bermimpi di akhir pekan, kawan!

image source: lagi-lagi google!

image source: lagi-lagi google!

Kalo suka, boleh di share lho
 January 31st, 2015  
 Nora Setiawan  
 Random  
 , , , , ,   
 0 Comment
Jan
24

Stand By Me

Satu hari yang paling menyenangkan ialah ketika sehari penuh itu menonton film atau acara yang bagus. Salah satu film bagus yang kemarin di tonton ialah Stand By Me. Kali ini juga akan sedikit di bahas tentang film itu tanpa sedikit pun niat untuk men-spoiler nya. Sungguh, gw ndak bermaksud sekalipun untuk being a spoiler.

Stand By Me ini bukan mengenai robot kucing berwarna biru yang kerap kita tunggu-tunggu nongol di televisi saat minggu pagi. *nah kan ketauan anak tahun berapa.. ataupun robot kucing yang bulan lalu sempat menghebohkan layar bioskop. Namun, ini Stand By Me yang di buat pada tahun 1986, diangkat dari novel Stephen King yang berjudul “The Body.”

Bertemakan coming-of-age atau akil baligh masa remaja dan persahabatan, empat orang anak berusia 12-13 tahun mengisi waktu liburan mereka untuk mencari mayat seorang teman. Perjalanan pun di mulai, dari adu mulut di antara dua orang, ledek-ledekkan di antara ke empat-empatnya, membangun tenda di hutan pada malam hari, terkena lintah di sekujur tubuh, sampai curhat tentang tekanan dari orang tua masing-masing. Rapi di jelaskan hanya dalam waktu 88 menit. Terasa begitu nyata, dan ndak cuman sekali kita terpaksa mengangguk-anggukkan kepala karena setuju.

stand by me

stand by me

“I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve,

Jesus does anyone?”

Seperti kutipan dari Stand By Me di atas, dan seperti yang dikatakan oleh seorang teman “people dont always stay, people come and go. Thats how life works, dear…” saya terpaksa setuju. Jangankan teman atau sahabat, pacar aja bisa jadi mantan, suami bisa jadi mantan suami, istri bisa jadi mantan istri, selingkuhan bisa jadi ndak jadi selingkuhan lagi lantaran bosan.

Kalo di tanya siapa sahabat lo paling dekat? Jujur saya bakal kelabakan jawabnya. Bukan lantaran saya gak ada teman, tapi rasa-rasanya setiap orang punya tugas dan masa nya sendiri. Teman sd, teman smp, teman sma, teman kuliah, teman maen, teman tidur, teman mesum. Teman kuliah biasa berdurasi 4 tahun, sesuai lamanya kuliah. Teman main, berdurasi selama masih bisa main ya kita temanan. Beda lagi dengan teman tidur, yang cuman di butuhin ketika lagi kepengen kenthu aja. Nahh kan?

Toh apa gunanya punya banyak teman tapi semuanya bermodus. Pura-pura baik, tapi di belakang suka kenthu dengan pasangan kita? Atau teman banyak tapi kalo ngumpul yang di omongin yaa ngomongin kejelekan sahabatnya sendiri. Bukannya seru, takutnya malah jadi bumerang. Mending punya dua biji tapi setia saat kita lagi down, atau hanya sekedar ingin curhat soal gebetan di tinder atau grindr.

Mungkin kesibukan diri masing-masing jugalah yang membawa kita menjadi jauh dari yang dulunya sahabat, tapi sekarang jadi sekedar ‘say hello’ . Perubahan pola pikir juga bisa menyebabkan kita jadi gak nyambung dengan mantan sahabat. Tapi, yahh begitulah namanya hidup. Ada sesuatu yang berubah, gak ada atau jarang sekali stabil. Thats how life works on, dear…..

By the way, it doesn’t mean I don’t have any close friends at all. I do have even not many, but they are quite sincere :)

nb: tulisan ini terinspirasi dari http://linimasa.com/2015/01/15/pertemanan/  :)

Kalo suka, boleh di share lho
Jan
17

Nonton

Sudah menjadi kegiatan yang biasa apabila kita menghabiskan waktu santai untuk menonton. Jangankan waktu santai, waktu sibuk sehabis kerja pun di bela-belain untuk menonton film kesayangan.Padahal  nya pun bervariasi, bisa jadi film lepas atau bersambung, tergantung selera gitu lah.

Padahal dulu sewaktu masih sekolah SMA, saya paling ndak suka kalau diajakin nonton bioskop. Ndak tau kenapa. Bisa di bilang juga, saya ini termasuk jarang sekali ke bioskop. Bisa di hitung setahun nonton berapa kali. Paling inget nonton Eiffel I’m In Love di bioskop sambil ngayal-ngayal kapan dapet pacar trus di boyong ke Perancis. Biasa khayalan babu yang sapa tau nanti jadi kenyataan. Pret.

Sayangnya, sewaktu booming Ada Apa Dengan Cinta (AADC), saya ndak ngikutin. Duh! Sempet bengong bloon juga ketika dulu teman-teman sepermainan pada heboh soal Rangga dan Cinta.

Ingat betul dulu sewaktu kuliah, seorang teman pernah sampai bilang “nonton yuk! gue bayarin, please?” saking saya nya ndak pernah tertarik untuk ke bioskop. Akhirnya ngalah, dan nonton Transformers. Bukan gegara mau di bayarin, tapi memang berniat untuk mencoba. Toh gak ada salahnya juga.

Mulai dari situlah, saya jadi punya hobi dan kebiasaan baru, yaitu menonton. Setiap ada film baru, punya waktu luang, langsung ke bioskop. Setiap ada film yang lagi booming, ke bioskop juga. Setiap ada film bagus, tapi gak tayang di bioskop karena udah rilis cukup lama, terpaksa hunting di berbagai situs untuk di unduh (yang ini jangan di tiru ya). Kalau kebetulan lagi mampir ke toko cd, atau penyewaan dvd, saya pasti menyempatkan diri untuk sekadar browsing film-film yang menarik.

Tak ketinggalan, ada sebuah situs yang rajin saya kunjungi untuk sekadar melihat film-film jadul dan baru yang ber-rating tinggi. Flixster, wadah untuk para pencinta film yang ingin mengorek review sebuah film atau sekadar meng-check rating. Memang tidak selalu dijadikan patokan, tapi paling tidak kita bisa mengetahui opini orang mengenai film.

Kalau ditanya apa film favorit saya, jujur saya sendiri juga bingung. Ndak tau mau nyebutin judul film apa. Duh! Saya bukan genre freak, malah cenderung ndak peduli genre, asalkan jalan cerita bagus atau unik, casts menarik dan di dukung akting yang bagus, bisa dipastikan saya bakal jatuh cinta. Ndak peduli juga mau animation, cartoon, orang beneran, whatever it is, if it’s really good, i’d be fallin’ in love.

Ada dua film bagus yang saya tonton minggu ini. P.K (PeeKay) dan Lovely Man. Satu film India dan satu lagi Indonesia. Yang satu film baru, yang satu film tahun 2011 dan saya sempet kepikiran “bokk gue selama ini kemana ajaaa, kok baru tau ada film indo sebagus ini”

Ndak bermaksud spoiler tapi premise kedua film itu memang menarik. PeeKay bercerita mengenai perjalanan seseorang dalam mencari Tuhan. Jika melihat sepintas, memang topik seperti ini cukup sensitif, namun sebenarnya lebih pada kita diajak untuk mengenal Tuhan lebih baik. Untuk selanjutnya, monggo di tonton sendiri hehehe..

Walaupun sama-sama ‘mencari’ , namun Lovely Man mengangkat tema ayah dan anak. Seorang remaja putri nekat ke Jakarta untuk menemui ayahnya yang ternyata seorang waria.  Menarik bukan? Termasuk sangat jarang ada film indonesia yang di buat se-apik dan se-cantik ini. Seperti biasa, untuk selanjutnya, monggo di tonton sendiri :)

 

seperti biasa, ambil dari google

seperti biasa, ambil dari google

 

Kalo suka, boleh di share lho
 January 17th, 2015  
 Nora Setiawan  
 Random  
 , , , , ,   
 0 Comment
Jan
10

The Sweet Rendezvous

Egads! Ini udah tanggal 10 january ajaaa.. Perasaan baru malem tahun baru, nulis buat blog di sebuah kafe sambil nunggu kembang api jedeer jedeeer, deg-degan karena keesokan harinya mau liburan ke negara sebelah dan naik satu maskapai yang lagi terkena musibah.

Ndak nyalahin sih, ndak takut juga, cuman agak parno hehehe.. Tapi akhirnya sudah sampai dan sampai lagi di rumah dengan selamat. Makasih pak pilot!

Belum ada kejadian yang menarik sampai detik ini. Yaaa wajar sih, tahun 2015 baru berjalan 9 hari. Taruhan deh pasti ntar tiba-tiba udah jalan 90 hari aja? Oh no! Please dont be too fast!

Sebelum gue ngomongin hal-hal yang bakal gue lakuin ke depannya,  please perkenankan lah gue untuk sedikit flash back. Terlalu sayang kalo sebuah moment ini cuman untuk di simpan di dalem otak gue, dan ndak dibagikan dalam blog ini. Maaf ya kalo pelacur *pelan-pelan curhat, eh emang curhat deng!

Selama berkunjung ke negara tetangga, gue itu cenderung bosen dan jenuh. Bukannya ndak bersyukur karena di kasih kesempatan untuk berlibur, tapi lebih pada “emang gak ada tempat lain yang belum pernah ya? Domestik juga ga nolak kok, kan banyak yang bagus” ya begitulah kira-kira.

Tepat seminggu lalu, gue ‘kebetulan’ kopdar sama seseorang yang awalnya gue biasa aja, tapi akhir-akhirnya jadi pengen treak “Ya Tuhan, gw pengen punya suami kayak gitu dong” *pppffffft

“Ketemuannya dimana sih?” tanya seorang temen, setelah gue curhat in semaleman. Dari sebuah aplikasi bernama ********** duar! Anggep aja itu social networking lah ya, biar gak terlalu binal. hehehe…

Singkat cerita, hari jumat tepat minggu lalu, gue dan dia sepakat bertemu di perempatan jalan *kurang romantis apa coba :\ , berhubung pas itu jam makan siang, sepakatlah gue dan dia untuk having brunch at Common Man Coffee Roasters. Sound perfect, isn’t it? :’)

Jujur aja, saking gue terpesona dengan keimutan wajahnya dan senyumnya yang seolah ngajak berkembang biak *eh , gue sampe gak fokus dengerin dia ngobrol apa. Blank. Tet tot tet tot…

Singkat cerita, gue dan dia jalan-jalan gajelas menyusuri tempat-tempat yang kami sendiri belum pernah tau sebelumnya. By the way, ini jalan kaki beneran ya, bukan ‘jalan’ apalagi ngamar.. Mehh…

It was fun.. It was really is.. Tentunya yang bikin fun yaaa karena faktor ‘whom’ aka dengan siapa.. Hahaha! Soal obrolan? Yaaah standard lah, we talked everything and things and all things…

Tapi yahh… Broo.. Namanya ‘jodoh’ apalagi cuman teman dating sehari, pastilah ada waktu kadaluwarsa nya.. Hiks… Ibarat kepengen barang yang bagusss banget tapi gak di jual di negeri sendiri, kalo mau beli ya bisaa sih tapi harus extra effort 😐

Mudeng ndak maksudnya? Jadi gini, tipe jodoh wanna be ada beberapa:

1. Cakep, smart, pinter, mandiri, baek, kalo lagi hoki yaa dapet bonus : tajir. Tapiiiiii, domisilinya di sonoooo, jauh, bahkan sampai beda benua. Ngok! Ibarat ya itu tadi, ada barang bagus murah tapi dijualnya di negara beda benua. :-S

2. Cakep, gak smart, pemalas, mandiri, anggep aja tajir. Ibarat barang bagus, murah, dijual di negeri sendiri tapi gampang rusak. :/

3. Bego, bentuknya abstrak, manja, nyebelin, bahkan looks nya se minus kelakuannya. Nah itu mah gak usah di beli aja, kebanyakan barangnya udah jelek, gampang rusak, tapi emang murah sih. Ngok!

Udah ya segitu aja, kira-kira begitulah. Tapi ya, namanya juga personal blog, tiga poin diatas di tulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan gue sendiri :p . Jadi belum tentu 100% tepat buat kamu, kamu, kamu dan dia.

In conclusion, gue cukup bahagia bisa mengenal seseorang kayak dia. Baik, ndak ada niatan untuk ngapa-ngapain gue *ato gegara gak ada kesempatan ya? Ngok! Walopun, belum tentu nanti bisa ketemu lagi, apalgi jadi jodoh..  Tapi gue sangat bersyukur bisa kenal dia. Paling ndak otak gue dan harapan gue jadi sedikit terbuka, ternyata masih banyak orang baik di luar sana :’)

 

tangga lumutan tapi penuh kenangan

tangga lumutan tapi penuh kenangan

 

 

Kalo suka, boleh di share lho