Kena Toyor

RSS
Oct
31

Woody Jalan-Jalan

Bulan October ini ditutup dengan manisnya. Entah gue lagi hoki atau kesambet apa, tapi yang jelas gue (akhirnya) berlibur. Coyy liburaaan! Sebelumnya tiap gue plan mau weekend getaway selalu gagal, akhirnya kali ini gak gagal juga. Walaupun, gue harus meng-cancel impian gue untuk ke Ubud Writers & Readers Festival, tapi ya udah lah ya, UWRF masih ada lagi tahun depan, hihi..

Jadi, holiday kali ini ke Taipei. Uhmm, karena gue bukan travel blogger, jadi gue kayanya gak bakal nyeritain detail tentang perjalanan travel gue kesana.

Kalo ditanya, apa sih yang berkesan selama disana? Uhmmm..

Jujur sih, gue juga bingung. Selama 5 hari 4 malam (iya gue tau, kurang lama…) disana gue agak kehilangan ‘sesuatu’ uhmmm…. Dibilang gak berkesan, ya gak sih, tapi kalo berkesan banget, ya gak juga.

Yang jelas, kesan pertama saat gw sampai di kota itu adalah “eeeh kok sama kayak Jakarta”

Dari airport ke hotel kira-kira 1.5 jam an. Macet di jalan tol. Iya, lo ga salah baca. Gue juga heran, ini gue udah di negara orang atau mental balik ke Jakarta sih?

Lupakan macet.

Hari kedua gue di Taipei, not so bad. Jalan-jalan sekitar kota, ke kuburan (well, it’s actually a memorial hall of Chiang Kha Sek & Sun Yat Sen – not interested for me :p) dan nightmarket, karena waktu gue mepet, jadi ya cuman bisa di satu kota, kalo ke tempat lainnya pun cuma bisa satu tujuan aja. But, it’s okay..

Hari ketiga gue di Taipei, masih sama. Jalan-jalan sekitar kota, Taipei 101, yang katanya elevator tercepat di dunia, rasanya ya gitu deh sama aja kayak ke menara bca lantai 56 (yaa kalii..), Taipei 101 itu sendiri adalah tempat indoor dimana bisa ngeliat seluruh kota dari atas.

Bagus sih, tapi karena ekspektasi gue outdoor kayak di The Peak, Hong Kong jadi yaa kebanting deh ama khayalan gue. But, overall it’s good to know that. Malamnya, lagi-lagi kita ke Shilin Nightmarket. Oh ya, tau sendiri kan kalo traveling itu selalu gak jauh-jauh dari soal kuliner. Yep, bener banget, soal kuliner di kota ini gak kalah menarik. Lupakan diet, gak usah diitung berapa lemak yang bakal masuk ke perut lo, karena lo rugi banget kalo ampe ga rakus di Taipei.

Shilin Nightmarket itu sendiri konon pasar terbesar dan paling rame di Taiwan. Intinya yah, street food Taipei ga ada yang ngalahin sih, etapi tetep kalah sih sama siomay dan bakso ojek.. xixixi…

Buat yang demen belanja baju, mungkin ini market yang cock buat lo. Buat yang demen makan sih, pasti cocok. Mungkin tiap malem kudu kesini, cobain makananya satu-satu. Gak mau rugi kan?

Hari ketiga disana ditutup dengan ke Xi mending, the largest shopping district. Gue sih gak shopping, cuma ngikut eksis, biar kalo di tanya “Eh, pernah ke Xi mending ga?” dan gue bisa jawab “pernah, bro” gitu…

Hari keempat, hari terakhir gue disana… Gue ke Sun Moon Lake. Lagi-lagi ekspektasi gue ketinggian atau terlalu kampung. Ternyata, danau ini sama sekali gak se-sepi dan se-tradisional yang gue kira.

Tourist boat ada dimana-mana dan ga ada sampan. Gue pikir danaunya bakal kayak danau toba di uang jadul 1000 kita itu lho, banyak bebatuan trus ada sampan. Untuk bagian sampan, gue tambahin sendiri sih.

Tapi, ternyata rame banget, karena emang tempat turis sih. Jadi, gue diharuskan naik boat untuk berhenti di dua tempat.

Tempat pertama, maaf gue lupa namanya, tapi banyak temple. Tempat kedua, semacam village, banyak toko, dan ada satu kafe yang interiornya menarik banget.

Karena perjalanan dari Taipei ke Sun Moon Lake lumayan jauh, jadi malam itu ditutup dengan packing barang dan tidur di hotel.

Hari kelima, seharian di pesawat dan airport 😐

Oh ya,

Sebelum gue berangkat ke Taipei, gue menyempatkan diri satu hari bengong di Singapore. Jalan-jalan gaje, sendirian dan tidur pun sendiri juga.

Karena emang gue terlalu capek, jadi baru jam 9 malam gue pun udah angkrem di kamar, nonton tipi sambil main hape, guling-guling di kasur.

Dan,

Akhirnya,

Gue bengong sejenak, karena tiba-tiba kedenger suara “aaaaahhhh uuuhhh oooohh aaaaahh”

Untuk mastiin apakah suara itu sama seperti yang ada di pikiran gue, jadilah gue matiin TV.

Dan, suara bukannya ilang malah makin kenceng…

“aaaaaahhhh uuuuhhhh aaaaahh uuuuuuhh”

Itu suara cewek…

“hmmm” – suara cowok berdehem

“WOYYY! KALO LAGI NGEWI JANGAN KENCENG-KENCENG KALI” – ini jeritan suara gue, dalam hati tapi…

Taipei Street Food, Shilin Market

Taipei Street Food, Shilin Market

 

Selfie at Xi Mending

Selfie at Xi Mending

 

Ini gue lagi dadah dadah di Sun Moon Lake

Ini gue lagi dadah dadah di Sun Moon Lake

 

Kalo suka, boleh di share lho
Oct
09

Too Good To Be True

“Jangan terlalu percaya kalo kamu nemu sesuatu (/seseorang) too good to be true…”

Seharusnya kata-kata itu terus di ingat sampai kapan pun. Perlu di bold, biar dia ingat.

Cuma secuil kata-kata aja, tapi efeknya amat dahsyat. Sudah berkali-kali dia menemui hal yang sama, tapi herannya masih juga menanggapi dengan cara yang sama. Siapa yang salah?

Semua bermula dari sapaan singkat di sosial media.

“Hi”

“Hi juga”

“Nama kamu siapa?”

“Boleh di lihat profile aku lho ;)”

“Oh iya. Nice to meet you ya…”

Obrolan singkat cenderung basa basi pun berlanjut sampai

“Want to meet for a dinner?”

—-

Malam itu membuat dunia nya berubah. Hatinya berbunga-bunga. Jantungnya berdebar-debar. Matanya berkedip-kedip tak percaya melihat sosok hampir mendekati sempurna ada di depannya saat itu. Tanpa diminta Tuhan pun mengirimkan sosok “Almost Perfect.” Baik sekali Tuhan ini, begitu pikirnya.

Keintensitasan dalam berkomunikasi membuatnya berpikir “Almost Perfect” inilah yang bakal mengisi hati dan otaknya untuk beberapa saat. Ia tak tahu akan berapa lama, atau malah selamanya, tapi yang jelas untuk beberapa waktu ke depan.

Tak pernah sekalipun terbesit di kepalanya, jatuh cinta selang beberapa hari ketemu itu does exist. Sebelumnya Ia selalu beranggapan, jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, yang ada itu ya napsu pada pandangan pertama, Sudah jelas bukan hukumnya. Buang jauh-jauh kata jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Kali ini mungkin berbeda, atau mungkin memang bukan pada pandangan pertama. Entahlah.

Ia tak begitu paham, mengapa hatinya berdegup kencang, matanya bersinar, senyumnya mengembang setiap kali nama sosok mendekati sempurna itu muncul dilayar HP. Mungkin sesosok itu terlalu nyata, terlalu sempurna dan nyata. Ia pun jadi buta. Dan bodoh.

Yang Ia inginkan saat itu hanya mimpi indah, mimpi manis. Berusaha sekuat tenaga untuk menolak kenyataan jika sesuatu yang terlalu baik biasanya berakhir mengecewakan. Yang Ia tahu, sosok tersebut membuatnya tak ingin sedetik pun melirik ke kanan dan ke kiri, apalagi ke belakang. Yang Ia bisa, hanya memandang lurus ke sosok dambaan.

“Kamu itu jangan terlalu percaya. Selidiki dulu lah”

Ia berusaha mengelak.

“Jangan-jangan cuma PHP”

“Ada pepatah ‘We meet for a reason, either you are a blessing or a lesson’ “

Dan lagi-lagi, Ia menganggap “a blessing, not a lesson”

Sosok itu mendekati sempurna, terlalu sempurna. Flawless. Sampai-sampai Ia tak bisa melihat sedikit kekurangan yang ada pada diri sosok itu.

“Dia itu baik. Sabar. Selalu Ada. Ganteng. Kaya pula”

Itu kalimat yang diucapkannya berbulan-bulan yang lalu. Ketika hati masih terbutakan asmara. Ketika jatuh cinta segampang membuat kopi instan. Ketika cinta semanis gulali.

Berubah sekejap, 360 derajad ucapan manis berubah sepahit ampas kopi tubruk.

“Dasar playboy kacangan!” umpatnya kesal.

“Well, it’s not good if it’s too good to be true, baby!”  balasku singkat.

from google

gambarnya dari google

Kalo suka, boleh di share lho
Oct
06

Susah Move On, Bro?

ambil dari path :')

ambil dari path :’)

 

NAH! Enough said! *either ditidurin ato nidurin sin

Ndak usah di sangkal, karena memang begitu adanya :’)

Apalagi ini tahun 2015. Ayolah, udah bukan jamannya Siti Nurbaya di jodohin lagi.

Tapi, Siti Nurbaya sekarang udah bisa nyari jodoh lewat Tinder.

Sayangnya, cuma jodoh semalam aja.

#halah

Kalo suka, boleh di share lho
 October 6th, 2015  
 Nora Setiawan  
 Point of View, Random  
 , , ,   
 1 Comment