Kena Toyor

RSS
Dec
28

Sajak Rindu (1)

Ku titipkan rindu pada angin malam

Biarkan terbang bersama angan-angan

Ku rindukan kau dari jauh

Melewati batas garis khatulistiwa

Meredam rindu dalam kekecewaan

Rindu yang tak pernah tersampaikan

Rindu yang tak tertahankan

Bagai malam menelan kesunyian

Kalo suka, boleh di share lho
Dec
25

Merry Christmas!

I remember, it was just a last year, and a couple years ago, and few years ago, I wished that I could celebrate christmas time outside home.

Today, I do celebrate Christmas away from home. Well, I wish I could retract my words.

Being far away from home at Christmas time is sad. It is even worse, when you scroll up and down your social media, and find people celebrate Christmas either with family, friends or lover.

Since, I don’t have something special to do at Christmas time, so I might find it a little boring and sad. Duhh…

Anyway,

Forget the sadness boredom or whatever. Still, we have to be thankful for each days that is given.

MERRY CHRISTMAS everybody!

 

Merry Christmas

                                  Merry Christmas!

Kalo suka, boleh di share lho
Dec
23

The Baduy Weekend Trip

Di mulai dari keisengan gue ngeliat satu akun instagram, yang kebetulan pas itu lagi ngebahas tentang Baduy. Jujur aja, sebelum liat postingan itu, gue gak tau kalo ternyata Baduy itu ada di Banten. Dan sekalipun gak pernah kepikiran buat kesana.

Tapi, kali itu, gue tertarik banget. Alhasil setelah google sana sini, gue nemu paket trip yg gue mau. Tanggalnya pun cucok, affordable dan itinerary looked so challenging! SO, the adventure had begun here!

Sabtu pagi, yang biasanya gue tidur sampe jam 12 siang, kali ini gue jam 5.30am udah bangun. Yea, you read it right. Mandi, beberes, nunggu suatu transportasi berbasis aplikasi yang kadang suka nyasar nyari alamat rumah kita (maaf kepanjangan), cek hp sekedar liat ada yang nyari gak (untungnya ada :p) dan akhirnya tepat jam 7 gue udah sampai di stasiun tanah abang.

Oh iya, ini pertama kali gue ikut weekend trip dan perginya pun berbarengan dengan orang-orang yang gue sama sekali gak kenal. Meskipun gue ajak satu temen, tapi gue juga gak kenal-kenal banget lah. So, let’s say I had my first time weekend getaway with ‘strangers.’

Jadi kita bertujuh, 6 peserta dan 1 pemandu sudah siap berpetualang. Kereta dijadwalkan tepat jam 8, tapi yahh seperti biasa ngaret-ngaret dikitlah. Perjalanan dari stasiun tanah abang ke stasiun rangkas bitung memakan waktu dua jam. Dari situ untuk sampai ke Ciboleger (Baduy Luar) masih harus naik angkot selama 2 jam lagi!

Well anyway, it’s the part of experience right…..

Setelah sampai di stasiun rangkas bitung, karena masih menunggu supir angkot yang lagi makan siang, temen gue ngajakin ke warung seberang untuk beli rokok “you want to come with me?” karena gue lagi bengong jadi gue bilang “yep, let’s go..”

Tau sendiri kan kelakuan orang kita kalo liat bule? Entah kenapa gue harus ceritain satu part lucu ini.

Jadi, temen gue beli rokok di warung, karena dia ngerti bahasa indonesia, si penjaga warung pun ngajakin dia ngobrol. Anak-anak kecil yang lagi gelendotan di tepi pintu pun ikut menyahut “mister mister” “how are you?” gitu deh kira-kira. Sampai tiba-tiba ada yang teriak “mister, saya lagi hamil.. dicubit dong..” gue pun bengong beberapa detik. Dan, kemudian terbahak-bahak (dalam hati) sambil ngeliat tangan si ibu beneran dicubit. 😐

Ok, next….

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari stasiun rangkas dan dengan sedikit rasa mual, mabuk darat akhirnya gue dan teman-teman trip akhirnya sampai juga di Ciboleger. Sampai disana, kita disambut oleh orang-orang dari Baduy Luar dan dipersilahkan masuk ke rumah salah satu penduduknya, untuk makan siang dan beristirahat. Gue pun memakai momen itu buat lurusin kaki dan elus-elus perut biar mualnya udahan ceritanya :|.

Sekitar jam 3 sore, kami pun bersiap untuk trekking menuju Baduy Dalam. FYI, gue baru tau detik itu juga, ternyata untuk ke Baduy Dalam sendiri, kita harus trekking kira-kira 4 jam. Ngek ngok.. Yes, trekking.. Jalan kaki yang jalanannya bebatuan, lumpur, tanjakan, turunan dan licin. Inget, ini lagi musim hujan, jadi licinnya ngalahin pahanya ceribel.

Plan kami ialah, menginap satu malam di Baduy Dalam, dan keesokan harinya turun ke Baduy Luar dan langsung menuju stasiun rangkas untuk mengejar kereta sore ke Jakarta. Too short, but it’s fun! 

Trekking pun dimulai…

Belum ada 1 km, gue udah berkali-kali kepleset dan akhirnya terjatuh.. brukk! Untungnya, kedua tangan gue cukup lincah, nahan pantat gue supaya gak jatuh :|. Lesson for myself: next time bring trekking shoes or mountain shoes or whatever that isn’t slippery.

Perjalanan selanjutnya, gue banyak dibantu sama tiga orang porter yang berbaik hati membawakan barang-barang kita. Inget ya, di bantunya bukan berarti gue di gotong kesana kesini, tapi gue di gandeng kalo lewat ke medan yang tingkat kelicinannya lumayan tinggi. Haseeekkk…. Kapan lagi lo trekking dan di gandeng? Gandengannya ganti-gantian pula! 😀

Sekitar jam 5an, kami sudah melewati jembatan ketiga, sebelum jembatan terakhir yang memisahkan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Berhubung, teman gue itu WNA dan waktu udah sore banget, jadi dia diharuskan balik ke Baduy Luar. Sudah menjadi peraturan adat mereka, kalo WNA dilarang masuk ke Baduy Dalam. Cukup mengecewakan sih, tapi ya sudah namanya juga pengunjung, harus banget dong mentaati peraturan yang ada. Perpisahan pun terpaksa terjadi. “We’ll see you tomorrow!”

Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Mau jalan selicin apapun, tanjakan bikin kaki pengen dilepas bentar, turunan yang bikin pengen main perosotan, asal teman tripnya seru emang gak kerasa. Itu yang gue rasain selama trip kemarin. It’s exactly true when somebody said you’ll never travel alone. And my fellow travelers are beyond expectation and fun :)

Jam setengah tujuh-an, sampailah kami di kampung Baduy Dalam yang paling luar. Rasanya lega dan terbayarkan, eh jangankan udah sampai di desanya, pas liat jembatan terakhir yang memisahkan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar aja gue kegirangan setengah mati. Itu berarti, udah mau sampe dan gue udah laper. 😀

Malam itu, gue dan yang lainnya nginep di rumah salah satu porter. FYI, porternya ganteng, ok gak penting…. Basa-basi dikit, naruh barang dan langsung ke sungai untuk bersih-bersih. Gue juga baru tau, kalo ternyata kita semua dilarang pake sampo dan sabun. Itu berarti, boleh mandi tapi cuman air tok. Tau gitu gak bawa perlengkapan mandi yak 😐

Karena langit udah gelap, dan emang ga keliatan apa-apa. Bawa senter sih, tapi yah penerangan senter sama lampu kan tetep beda, jadi sama aja ga gitu keliatan apa-apa. Gue udah gerah banget, rasanya pengen telanjang trus berendam. Tapi, suasana tidak memungkinkan dan daripada yang lain pada pingsan, maka diurungkanlah niat telanjang tersebut. ngekkk…

Gak liat kanan kiri, gue langsung cuci muka dengan asyiknya, sampai gue lupa betapa asinnya air sungai itu. Iya, asin… asin banget….. Sampai keesokan harinya, gue baru ngeh.. “mana ada air sungai itu asin…. kan airnya tawar……” ja ja jadi, pipis itu rasanya asin dong ya…..

Malam sabtu gue kali ini, gue nikmatin dengan gelapnya desa yang memang gak ada listrik. Penerangan pun cuman dari lampu senter. Menu makanan sederhana tapi bisa bikin hati bahagia. Kapan lagi bisa makan nasi, tempe, sambel endes, indomie di Baduy, di rumah penduduk aselinya, beramai-ramaian dengan orang-orang yg tadinya ga gue kenal, tapi jadi deket?

You’ll get something unforgettable when you are outside your comfort zone….

Kegiatan selama di Baduy Dalam, makan, ngobrol dengan penduduk aseli, kongkow di luar rumah yang rasanya luar biasa asiknya. Padahal kalo di Jakarta, mati listrik sejam atau signal HP bapuk aja udah marah-marah, maki-maki di sosmed. Tapi disini beda, malah enjoy. Bahkan kepikiran buat pegang hp aja gak, apalagi kangen ac kamar, lha wong udah dingin banget.

Anyway, puas ngobrol dan kongkownya, puas merasakan kehangatan para suku baduy dalam menyambut para tamunya, kami pun tidur, mengisi ulang tenaga untuk trekking ke jalan pulang.. halahh….

Minggu pagi sekitar jam 7an, kami pun berpamitan dan bersiap untuk trekking pulang.. again….. Oh ya, promosi dikit, madu yang dijual Suku Baduy ituh enak loh. Itu madu dari lebah liar di hutan. Warna madunya hitam pekat, mirip kecap tapi ga sepekat kecap sih, but it tastes very nice.

Singkat cerita, udah panjang juga… Perjalanan pulang kami lancar, jam 5an sore udah balik lagi ke Stasiun Tanah Abang dan kami pun berpisah sebagai saudara. ceileeee….

Gue jadi ngerti kenapa banyak orang yg gue kenal pada suka traveling, bahkan sekedar untuk weekend trip. Well, collect experience is so much better than all those branded stuff at store ;).

Yuk, ke Baduy!

 

Even Woody really loves it there!

Even Woody really loves it there!

 

Three good looking porters originally from Baduy Dalam.

Three good looking porters originally from Baduy Dalam.

 

Adventure has begun!

Adventure has begun!

 

this boy looked at me when I was taking Woody, so I asked him to pose with Woody.

this boy looked at me when I was taking Woody, so I asked him to pose with Woody.

Kalo suka, boleh di share lho
Dec
18

Start From December

“Ini udaaaaah 14 desembeerrr ajaaaaaa” teriakan tetangga… tapi dalam hati sih. Entah kenapa gue juga denger.

Okey. Alright. 

“Iyaaaaaaaa…… Tiba-tiba, kok udah pertengahan desember aja… 2015 bentar lagi kelar, perasaan baru kemarin gue lulus SD” nah kalo ini curhatan gue..Masih juga dalam hati.

Tapi, gue sering ngeluh ke orang-orang terdekat gue.

“Why time flies so fast?”

“It only needs only blink, then a year has passed”

“Wow! Where have I been these years?”

“What was I actually doing?”

Etc etc…..

Waktu emang selalu kerasa cepat, se cepat kecoak terbang nemplok di baju orang.

Gue masih inget banget, ketika gue masih kelas 4 sd. Ada seorang tante gue yang kebetulan malam itu nginep di rumah gue. Fyi, sewaktu kecil gue selalu suka setiap ada saudara yang nginep di rumah. Lumayan bisa jadi temen ngobrol.

Jadi tante gue ini bilang “Waktu itu cepet banget. Lihat aja kamu sekarang udah kelas 4 SD, nanti kalo tante kesini, pasti kamu udah SMA, trus tiba-tiba kamu udah punya anak”

Simpel tapi sadis. Bener banget. Tiba-tiba, gue udah memasuki fase hidup dimana seusia gue menikah, berkeluarga dan beranak itu suatu hal yang wajar banget. Malahan kalo belum, kayaknya aneh banget.

Well,

Padahal kalo boleh jujur, gue gak ngerasa umur gue bertambah, makin tua, makin beruban. I feel like I’m forever 21, eh itu toko baju. Well, forever 22… Masih beringas, liar, berkeliaran kesana kemari, suka kepo, suka penasaran, suka petualangan, hyperactive. ya gitu dehh..

My memories about last year is still intact.

All those times I had tried to catch my dreams

All those times I was scared to fly with Air Asia because the news.

All those times I liked somebody that I shouldn’t have done.

All those times I realised that people come and go, is a normal.

All those times I have been trying to write the blog.

So much things happened during a year.

And, I’m very much looking forward to next year, and the year after and after.B

Kalo suka, boleh di share lho
Dec
14

#DearYou

#DearYou

And…

So..

I just realised my old post that I thought it’s already posted….

It was still there in my draft..

Duhh..

So, I was giving a signal..

I posted an instagram picture, it was about my blog’s anniversary.

But, it is actually more than that.

I know you’ve always been there, scrolling up and down, tapping on your phone until your thumb is numb.

And, I wish..

To let you know I actually wrote for you.

To let you read things were running inside my head.

Eventhough, it is indeed absurd and endless and meaningless.

I don’t care.

So, a quote said “Better to have fight with you all the time than to be in love with somebody else”

I don’t know if it’s true

But,

Anyway,

#DearYou, It is nice to know, we are actually ‘good’ 😉

Kalo suka, boleh di share lho