Kena Toyor

RSS
Feb
22

Hey Sun! Where Are You Now?

Saat itu umurku baru 10 tahun tapi aku masih mengingatnya dengan jelas. 19 Juni 1983 merupakan hari bersejarah untuk ku. Mungkin untuk Indonesia juga.

Fenomena alam terjadi di hari itu, begitu juga sebuah fenomena dalam hidupku. Pagi itu aku sedang mengambil nasi di dapur, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh di ruang depan.

“Bukk bukk…. Gek ndang neng omah ku. Bapak karo anak mu sisan di jak” seru Ahmad, tetangga ku yang terkenal supel. Ahmad mengajak Ibu dan Ayah ku untuk berkunjung ke rumahnya, menonton siaran langsung Gerhana Matahari Total. Ahmad, adalah satu-satunya tetangga ku yang memiliki televisi dikala itu.

Ibu dan ayah ku pun beranjak pergi. Ibu sempat meneriakiku untuk segera ikut, tapi aku tak tertarik dan tetap melanjutkan makan pagi ku. Aku lapar sekali.

Pada saat itu, fenomena Gerhana Matahari Total memang begitu istimewa. Pemerintah berkali-kali menghimbau kami untuk tidak keluar rumah, karena menatap Gerhana Matahari dengan mata telanjang akan membuat kita buta. Pemerintah juga menghimbau kami untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total melalui TV.

Jujur saja, aku tak terlalu tertarik.

Maka aku memilih melanjutkan makan ku di pagi itu.

gedubrakkkk…..¬†

Aku pun bergegas menoleh. Tak ada siapa-siapa disini, pikirku.

Aku melanjutkan makan lagi.

“Heeeey”¬†

Aku terkejut, hampir tersedak ikan asin yang sedang ku makan.

“Heeeeeyyy….” Sapanya lagi, kali ini ia melambaikan tangan tepat di depan wajahku.

“Kamu ngapain disini?”

“Yukk, nonton Gerhana Matahari” ajaknya centil.

“Nggak ah.” Jawab ku singkat sambil melanjutkan makan.

“Ayoolahhhh….. Kapan lagi nonton Gerhana Matahari. Langka loh. Belum tentu kita masih hidup kalo pun ada lagi.

“Nonton aja di tempat Pak Ahmad” sambil mengunyah tempe goreng.

“Ahh tak mau. Aku ingin nonton langsung di luar. Aku sudah siapin alat-alatnya kok. Aku tidak peduli kata pemerintah untuk tetap di rumah. Mana bisa kita lewatin begitu saja fenomena alam ini. Terlalu sayang untuk dilewatkan.” Ocehnya sendiri.

Hmm bener juga ya, pikirku saat itu.

“Aku tahu dari ayah, banyak orang luar negeri yang malah ke Indonesia demi nonton Gerhana Matahari Total langsung disini. Tidak adil bukan jika wisatawan saja boleh menyaksikan sendiri sedangkan kita hanya menyaksikan melalui televisi dirumah? Ahh yang benar saja.” Belum sempat aku menjawab, ia sudah melanjutkan omelannya.

Aku diam-diam merenungkan perkataannya.

“Kok diam saja?” dia menyenggol siku ku.

“Memangnya apa rencana mu?”

“Ikuti aku dulu, nanti akan kutunjukkan padamu”

Aku pun mengalah dan mengikutinya ke halaman depan. Saat itu langit masih terang, terdengar suara TV milik Ahmad seolah memberitahuku bahwa matahari sebentar lagi akan padam sejenak.

Aku memperhatikan dengan seksama, ia mengisi baskom dengan air sampai meluap.

“Hey! Jangan diam saja. Sini bantu aku”

Aku mengangkat baskom dan ku taruh di pekarangan depan. Desa tempat ku tinggal memang terdapat satu pekarangan besar yang dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk. Rumah kami saling berdekatan satu sama lain, jadi tak heran jika aku dapat mendengar suara dari TV Ahmad.

Pernah suatu ketika aku mendengar suara mirip lenguhan sapi, sampai beberapa tahun kemudian aku baru tahu, suara itu sama sekali bukan lenguhan sapi, namun suara orang bercinta.

“Heeeey! Lihat!” Seruannya membuat aku melihat kearah baskom.

Biru langit berubah menjadi biru abu-abu tua. Keadaan langit menjadi gelap, semua yang berada disekelilingku mendadak menjadi gelap. Aku menatapnya, tak ku pedulikan dahsyatnya fenomena gerhana matahari total saat itu, yang ku ingat dan ku pedulikan hanya sosoknya yang selama ini ku perhatikan diam-diam.

Ya, aku memang menyukainya sejak lama. Dia tetanggaku, tempat tinggalnya hanya berjarak 3 rumah dari rumahku. Sudah beberapa bulan terakhir aku diam-diam mengamatinya. Dia lebih tinggi dariku, mungkin dia juga lebih tua beberapa tahun dariku. Ku dengar, dia disini memang hanya akan tinggal selama 6 bulan saja, dia berasal dari kota. Pantas saja penampilannya berbeda dari kami warga desa ini.

Pagi itu, aku sungguh terkejut. Dia, sosok yang selama ini aku amati ternyata diam-diam berada dirumahku, menganggu sarapan ku dan mengajakku untuk melihat gerhana matahari dengan mata telanjang.

“Hey! Lihat sini! Jangan bengong!” bentaknya.

Aku melihat isi baskom dengan seksama. Sungguh, aku tak mengerti apa sih indahnya gerhana matahari ini, yang kutemukan hanyalah pantulan sinar matahari yang tertutup oleh bulan saja.

“Indah banget ya. Aku sudah lama lho ingin sekali melihat gerhana matahari total ini. Kalo di kota, belum tentu ada.”

Aku pun hanya mendengus.

“Kamu gak suka?”

“Biasa aja”

“Sini. Coba lihat baik-baik, 30 detik saja. Bayangkan jika kita hidup di dunia dimana tidak ada matahari sama sekali” ucapnya sambil meraih tanganku.

Deg!

Saat itu memang usiaku masih 10 tahun, namun tak pernah kulupakan sentuhan dan usapan tangannya di lenganku. Usapan lebih dari seorang teman, pun lebih dari seorang saudara.

Langit kembali bersinar terang menandakan gerhana matahari telah usai. Suara TV Ahmad memberitahu kami fenomena pada tahun itu selesai sudah.

Memang gelapnya langit hanya beberapa menit, usapan tanganmu hanya beberapa detik, namun sampai 33 tahun lamanya, aku tak pernah tahu keberadaanmu. Bahkan, aku masih bisa merasakannya kembali.

Seandainya, aku bisa mengembalikan waktu akan ku beranikan diri untuk menanyakan tentangnya. Paling tidak, dimana dia berasal, alamat tempat tinggalnya agar aku bisa mengirimkan surat.

“Yah… Matahari sudah kembali bersinar lagi. Gerhananya habis. Padahal, aku masih pingin lihat lagi, lho. Yuk, balik ke rumah kamu, aku mau naruh baskom ini. Tadi, aku ambil dari dapur kamu hehe”

Aku hanya mengangguk.

“Sudah ku kembalikan yaaa.. Nanti kalau ditanya ibu mu, bilang baskomnya sudah ku taruh di dekat wajan”

Aku terdiam.

“Nama kamu siapa?” ku beranikan bertanya.

“Radit. Kamu?”

“Ale” sahutku sambil mengulurkan tangan.

 

source: taken from google

source: taken from google

Kalo suka, boleh di share lho
Feb
14

Happy Valentine’s Day!

Seandainya kita masih bersama, mungkin akan ada percakapan panjang mengenai hari ini. Sekalipun kita tidak bertatap muka.

Seandainya kita masih semanis gula dalam soda, mungkin akan ada rayuan gombal diantara kita berdua. Sekalipun kita tidak bertatap muka.

Seandainya kita masih saling menyapa, saling berucap “selamat pagi” , mungkin akan ada ucapan “selamat hari valentine” hari ini.

Seandainya kita masih saling memimpikan, mungkin akan ada perayaan valentine di mimpimu dan mimpiku.

Seandainya kita tinggal di negeri yang sama, mungkin akan ada tatap muka hari ini.

Seandainya kita saling sayang, mungkin akan ada perjuangan untuk melihat kita tersenyum satu sama lain.

Seandainya kita saling mencinta, mungkin akan ada perjuangan untuk memeluk satu sama lain dari dekat.

Seandainya kita tidak terlalu bodoh untuk mudah mengumbar emosi, mungkin akan ada pertemuan-pertemuan di esok hari.

Dan…….

Seandainya kita ditakdirkan untuk bersama…….

 

 

Mungkin………..

 

 

 

Happy Valentine’s Day!

 

Seandainya ini aku dan kamu ;)

Seandainya ini aku dan kamu ;)

Kalo suka, boleh di share lho
Feb
01

Budi Bermimpi

Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke Dunia Dongeng. Ia tak ingat, bagaimana cara ia bisa sampai disana, tapi yang ia tahu saat itu adalah, ia diperbolehkan makan apapun yang ada di dunia itu.

Seperti namanya, Dunia Dongeng. Dunia yang tentu tidak akan ditemukan di kehidupan nyata.

Dunia Dongeng, semua yang ada di dunia ini bisa dimakan. Mulai dari rumah berbentuk roti, mobil berbentuk jelly, air berupa lelehan cokelat sampai orang-orangan roti jahe sekalipun bisa dimakan.

Namun, Budi memilih untuk tidak memakannya. Ia pun segera mempercepat jalannya, ia tiba-tiba berhenti ketika ia menemukan sebuah dapur yang berbentuk burger, lengkap dengan lelehan kejunya. Budi tergoda dengan lelehan keju yang seolah melambai-lambai untuk dimakan, ia pun segera masuk ke dapur itu.

Betapa kagetnya Budi, menemukan ibunya sudah berada di dalam ruangan tersebut.

“Lho Ibu, kok sudah ada disini? Tadi kan ada di sebelah aku..”

“Maaf, kamu siapa ya?”

“Ibuuu.. Ini aku Budi…” Mata Budi berkaca-kaca.

Wanita separuh baya tersebut seolah tak mendengar Budi, ia pun melanjutkan membuat kue. Terlihat berbagai roti, kue, dan alat-alat untuk membuat kue, melayang-layang di sekitar wanita itu.

Budi masih berusaha mengajak Sang Ibu berbicara, sambil sesekali meraih roti ‘melayang’ itu. Sadar bahwa Sang Ibu tidak meresponnya. Budi pun segera menelpon ponsel Ibu nya untuk memastikan bahwa wanita itu benar ibunya, tapi tak bisa karena kehabisan pulsa. Di pagi harinya, Budi kembali ke dapur itu dan masih menemukan Sang Ibu sedang membuat kue, ditemani puluhan kue, roti melayang di sekitarnya.

Budi merasa ada yg tak beres dengan roti melayang itu, dengan senjata seadanya, Budi pun memukul satu per satu roti melayang, sampai tidak ada roti yang tersisa. Dan, Sang Ibu tiba-tiba pingsan.

“Buuu… Ibuuu….” Panggil Budi histeris.

 

Budi pun terbangun, kedua matanya basah. Ia segera beranjak keluar kamar, pergi ke rumah Ibunya yang hanya berjarak 10 km dari tempat ia tinggal.

Sesampainya, Budi pun langsung memeluk erat nisan Ibunya, sambil meminta maaf karena ia sudah lama sekali tidak mengunjungi makam Ibunya.

 

 

source: Once Upon a Time colouring book

source: Once Upon a Time colouring book

 

Kalo suka, boleh di share lho
 February 1st, 2016  
 Nora Setiawan  
 Fiksi  
 , ,   
 0 Comment