Kena Toyor

RSS
06
May

Life Crisis Poetry

The Quarter plus Five years of Adult Life Poetry.

DISCLAIMER: This is not a poem at all. I wonder why you wasting time to scroll up and down. This is just random writing of 30s life crisis. But, there you go!

 

My friends put their children
to bed every night,
I’m just swiping right
and left while on bed.

My friends bought
a house…yeayy
I bought
tons potato chips
That’s what I can afford

People at my age
going on a date
I also go on a date
with my nintendo
attached to my hands

My friends are out
for drinks in the weekend
I’ve got plans instead
to spend my weekend
cooking inedible pasta

Our date(s) were magic
Until he ghosted away
Meh….

Most of people are rich
at least, on Instagram
Unlike me, munching
stalled cake from the fridge
and gained some kilograms

Seeing a sexy abs man
on Instagram, and wishes
he is mine
Until, found out he’s actually
doesn’t like my gender

Finally, tinder-matched
with very cute guy
He said, can we have an orgasm
on the top of our faces?
Then, I pretend
to be a potato

 

idc

Source: www.google.com

 

Kalo suka, boleh di share lho
08
Jan

The Root of Happiness is Inside Us

Happiness is Simple

Happiness is Simple

Ekspresi bahagia si Doraemon ini membuat ku berpikir, untuk bahagia itu gak susah. Tinggal perkara mau atau tidak saja.

Untuk jadi bahagia, juga gak perlu effort banyak. Bahkan, hal sepele pun bisa bikin bahagia.

Bahagia itu harus dimulai dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Bukan dari hubungan kita dengan orang lain. Apalagi, dari hubungan kita dengan orang yang kita sayang.

Kita gak butuh orang lain untuk jadi bahagia. Gak butuh orang lain untuk membahagiakan kita.

Karena,

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana, melihat mu bahagia.

Sesederhana, melihat mu tersenyum.

Sesederhana, melihat mu tertawa lepas.

Dan,

Aku gak butuh kamu untuk jadi bahagia.

Aku bisa sendiri.

Sendiri juga bukan berarti gak bahagia.

Because happiness is the root of my life.

.

Kalo suka, boleh di share lho
25
Dec

Merry Christmas!

I remember, it was just a last year, and a couple years ago, and few years ago, I wished that I could celebrate christmas time outside home.

Today, I do celebrate Christmas away from home. Well, I wish I could retract my words.

Being far away from home at Christmas time is sad. It is even worse, when you scroll up and down your social media, and find people celebrate Christmas either with family, friends or lover.

Since, I don’t have something special to do at Christmas time, so I might find it a little boring and sad. Duhh…

Anyway,

Forget the sadness boredom or whatever. Still, we have to be thankful for each days that is given.

MERRY CHRISTMAS everybody!

 

Merry Christmas

                                  Merry Christmas!

Kalo suka, boleh di share lho
09
Oct

Too Good To Be True

“Jangan terlalu percaya kalo kamu nemu sesuatu (/seseorang) too good to be true…”

Seharusnya kata-kata itu terus di ingat sampai kapan pun. Perlu di bold, biar dia ingat.

Cuma secuil kata-kata aja, tapi efeknya amat dahsyat. Sudah berkali-kali dia menemui hal yang sama, tapi herannya masih juga menanggapi dengan cara yang sama. Siapa yang salah?

Semua bermula dari sapaan singkat di sosial media.

“Hi”

“Hi juga”

“Nama kamu siapa?”

“Boleh di lihat profile aku lho ;)”

“Oh iya. Nice to meet you ya…”

Obrolan singkat cenderung basa basi pun berlanjut sampai

“Want to meet for a dinner?”

—-

Malam itu membuat dunia nya berubah. Hatinya berbunga-bunga. Jantungnya berdebar-debar. Matanya berkedip-kedip tak percaya melihat sosok hampir mendekati sempurna ada di depannya saat itu. Tanpa diminta Tuhan pun mengirimkan sosok “Almost Perfect.” Baik sekali Tuhan ini, begitu pikirnya.

Keintensitasan dalam berkomunikasi membuatnya berpikir “Almost Perfect” inilah yang bakal mengisi hati dan otaknya untuk beberapa saat. Ia tak tahu akan berapa lama, atau malah selamanya, tapi yang jelas untuk beberapa waktu ke depan.

Tak pernah sekalipun terbesit di kepalanya, jatuh cinta selang beberapa hari ketemu itu does exist. Sebelumnya Ia selalu beranggapan, jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, yang ada itu ya napsu pada pandangan pertama, Sudah jelas bukan hukumnya. Buang jauh-jauh kata jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Kali ini mungkin berbeda, atau mungkin memang bukan pada pandangan pertama. Entahlah.

Ia tak begitu paham, mengapa hatinya berdegup kencang, matanya bersinar, senyumnya mengembang setiap kali nama sosok mendekati sempurna itu muncul dilayar HP. Mungkin sesosok itu terlalu nyata, terlalu sempurna dan nyata. Ia pun jadi buta. Dan bodoh.

Yang Ia inginkan saat itu hanya mimpi indah, mimpi manis. Berusaha sekuat tenaga untuk menolak kenyataan jika sesuatu yang terlalu baik biasanya berakhir mengecewakan. Yang Ia tahu, sosok tersebut membuatnya tak ingin sedetik pun melirik ke kanan dan ke kiri, apalagi ke belakang. Yang Ia bisa, hanya memandang lurus ke sosok dambaan.

“Kamu itu jangan terlalu percaya. Selidiki dulu lah”

Ia berusaha mengelak.

“Jangan-jangan cuma PHP”

“Ada pepatah ‘We meet for a reason, either you are a blessing or a lesson’ “

Dan lagi-lagi, Ia menganggap “a blessing, not a lesson”

Sosok itu mendekati sempurna, terlalu sempurna. Flawless. Sampai-sampai Ia tak bisa melihat sedikit kekurangan yang ada pada diri sosok itu.

“Dia itu baik. Sabar. Selalu Ada. Ganteng. Kaya pula”

Itu kalimat yang diucapkannya berbulan-bulan yang lalu. Ketika hati masih terbutakan asmara. Ketika jatuh cinta segampang membuat kopi instan. Ketika cinta semanis gulali.

Berubah sekejap, 360 derajad ucapan manis berubah sepahit ampas kopi tubruk.

“Dasar playboy kacangan!” umpatnya kesal.

“Well, it’s not good if it’s too good to be true, baby!”  balasku singkat.

from google

gambarnya dari google

Kalo suka, boleh di share lho
15
Jul

Worst Critic

One fine evening. Well, I shall say not quite fine, but let’s just go with fine.

One fine evening, I was reading a book during my flight. While the old guy who sat next to me was sleeping and snoring. Nah, I wasn’t annoyed though.

Before, I tell you why I’m attached to the book, well especially this part. So, I just made a big mistake days ago. It left a little scar in my mind. The first time I did this wrong, even though I did not mean to, but once it was a mistake, it would be a mistake forever. Well, it was alright though, I did try to fix. Just show a fully responsibility. Storm has passed by, anyway.

SO, I came across this wise words though. It was in my book that I’m currently reading. I agreed. I completely agreed. I did not blame anyone, I blame myself for my stupidity.

Am I reckless? YEAH.

Clumsy? YEAH.

Human Error? YEAH

Just a human being after all? Well, yeah.

Let’s not taking it easy as there is always a human error.

Speaking about responsibility. Yes, Im responsible for whatever happened.

Did I get judge? Might. I don’t take it too hard.

What I care is, I already did the best. I did not get mad, I was shocked, yes absolutely. The rest? I will be waiting for whatever would happen.

Anyway, this is the words. It currently describes thousand words for me.

This is so TRUE.

Source: whatever you think, think the opposite book

Source: whatever you think, think the opposite book

 

 

 

Kalo suka, boleh di share lho
13
Feb

Consistency?

Berbicara soal konsistensi merupakan hal yang mudah. Ingat, ini cuman membicarakan ya bukan melakukan. Dua hal yang berbeda, namun kerap berjalan seiring. Seperti pepatah mengatakan “it’s easier said than to be done” lebih mudah memberi nasehat daripada melakukannya sendiri. Memang begitu bukan?

Hampir mirip dengan perkara konsistensi. Kita bisa dengan mudahnya mengatakan “gue ndak bakal mau pacaran sama dia, soale jelek, rambutnya berminyak, sandalnya bulukan” dan dengan mudahnya pula, kita berubah pikiran “ya sudah lah, ndak papa deh, wong dia ternyata anaknya raja minyak” nah lohh..

Kerap kali secara tidak sadar, kita semua pernah melupakan konsistensi yang di bikin sendiri. Contoh simpel: hampir aja saya sendiri melupakan tugas memposting satu tulisan di sini, lantaran sibuk atau malas sih lebih tepatnya. Untungnya, bisa sedikit memaksakan diri untuk tetap berkonsisten.

Beda lagi dengan dulu, sebelum bikin blog ini, entah sudah berapa blog yang saya geletakan begitu saja. Mulai dari blog friendster, yang isinya curhatan soal pacar, teman tidur, mantan melulu sampai dengan wordpress bikinan sendiri yang tadinya ingin me-review setiap film yang di tonton. Hasilnya? NIHIL tentu saja. Paling cuma bertahan sebulan aja. Dua bulan sih sudah bagus.

Untungnya lagi, memasuki bulan ke-empat masih bertahan mem-posting seminggu sekali. Walaupun kepingin coba dua kali seminggu, tapi apa daya karena belum sempet (baca: males) ya untuk sementara cukup seminggu sekali 😀

Contoh simpel sikap berkonsisten yang lainnya. Pernah ndak kadang kita males banget sama seorang teman kita, entah karena dia bau atau pelit atau emang nyebelin ndak pantes diajak berteman tapi sudah kadung temenan aja… Trus di dalam ati rasa ingin menjauh sangat kuat, bahkan sudah bertekad untuk ke depannya, ndak akan ada yang namanya bertegur sapa lagi? Namun, entah karena lupa atau sungkan atau kita lagi ada maunya, tetiba lupa dengan tekad awal untuk menjauh? Nah kan..

Atau bisa juga, sikap konsistensi itu di terapkan dalam diet dan olahraga.“Pokonya mulai bulan depan, gue mau gym tiap sore, trus paginya lari-lari keliling komplek. Malemnya ndak mau makan nasi!” beberapa bulan kemudian, tiap sore lebih memilih rebahan di kasur atau ngemil es krim, malemnya ngemil nasi goreng sama susu sapi. Entahlah, mungkin bulan depan itu berarti bulan depannya dua bulan lagi.

Di atas merupakan beberapa contoh simpel, seringkali kejadian setiap harinya. Bukan curcol, tetapi lebih ke pengalaman dan pengamatan sehari-hari. Namun, ndak jarang juga ada yang mencibir “lo itu orangnya keras kepala ya.. batu daridulu.. kalo maunya A ya A, di geser A- dikit ndak mau”

Lhaaaaa…. Katanya di suruh belajar konsistensi?

Entahlah. Manusia memang aneh, di saat kita mulai belajar untuk berkonsisten, di sisi lain ada hal yang mengharuskan kita untuk melepaskan sikap konsisten.

Gampangnya “kalo gak konsisten di bilang plin plan, konsisten dikit di bilang kepala batu. Susah ya bokkk”

ambil dari google lagi ;)

ambil dari google lagi ;)

Kalo suka, boleh di share lho
 February 13th, 2015  
 Nora Setiawan  
 Point of View, Random, Reflection  
 , , ,   
 0 Comment