Kena Toyor

RSS
20
Jun

Cerita Pizza

Bermula dari kegemaran gue makan pizza, setiap gue nemu tempat baru yang kebetulan jual pizza gue jadi bawaannya pengen pesen pizza. Ngga peduli lagi laper ato udah kenyang, yang penting pizza kudu ada di meja. Haha!

Bahkan gue punya obsesi sendiri….. Pengen nyengajain cobain satu-satu pizza restaurant yang ada di kota tempat gue tinggal sekarang, tapi yah namanya juga mimpi (atau obsesi?) semata, tentu sampai sekarang belum kesampaian. Lagian ya…. Restaurant pizza yang tersebar di Jakarta ini ya banyak banget bok! :O

By the way, ini gue coba mencatat beberapa restaurant pizza yang udah gue coba beberapa kali, bahkan udah masuk dalam list “My Favourite Pizza”

 

1.California Pizza Kitchen

Menu favorit gue di sini adalah The Meat Cravers. Isinyaaa daginggg semua… Tentu gue jatuh cinta dengan pizza yang satu ini. Oh ya, gue gak terlalu suka dengan original pizza, yang ketebalan pizza menyaingi roti semir…. yang rotinya tebeeel banget kayak kasur bayi. Gue pun lebih menyukai crispy thin crust pizza, makanya selalu pesen  yang tipis-tipis gitu deh. Jujur, belum pernah pesen rasa yang lain. But, so far gue puas makan di sini dan tentunya gue akan bolak balik ke sini sih.

Soal harga, ya standard pizza-pizza pada umumnya sih, range 70k – 150k. Lokasinya berada di Jalan Kemang Raya No.37, Jakarta Selatan.

The Meat Cravers

The Meat Cravers

 

2. Pizza Express

Dulunya Pizza Marzano, tapi di beberapa tempat kayanya sih masih pakai nama Marzano. Kalo ngga salah inget ya…. Pizza Express ini paling mudah ditemuin, tersebar di berbagai mall di Jakarta. Surprisingly, pizzanya enak juga. Pas nyobain makan di sini, pesen dua pizza. Le Rose dan American Hottest, untuk yang suka pedes bakalan cocok sama yang American Hottest. Kedua pizza ini di dominasi oleh daging-daging seperti beef bacon, pepperoni, sausage, etc. Maklumin aja, namanya juga karnivora jadi kalo mesen mesti daging semua. Haha!

Soal harga, masih standard pizza-pizza pada umumnya, range 70k-150k. Lokasi tersebar di berbagai mall seperti, Lippo Kemang, Lotte Avenue, Grand Indonesia, etc. Kalo lagi males keluar, Pizza Express juga menyediakan delivery, telepon delivery bisa di cek di google. :p

American Hottest (maapkeun, pizzanya berantakan)

American Hottest (maapkeun, pizzanya berantakan)

 

3. Pizza Barboni

Dua kali nyobain makan di sini, satu kali delivery, satunya lagi makan di tempat. Secara tempat, Pizza Barboni ini bisa dibilang cukup lucu sih. Yaah ala ala anak muda jaman sekarang gitu, yang pake tembok bata ngga dicat…. Waktu ke sana mesen Americana dan Capricciosa. As always, daging semua…. dan enak sih. Hehehe….

Range harga masih sama seperti di atas. Standard pizza-pizza di restaurant, 70k-150k… Lokasinya ada di Kemang dan Plaza Festival, Kuningan.

Kemang: Jl. Kemang Raya No. 49, untuk delivery bisa telepon ke 021 7181101, pesen di gojek juga bisa sih. Waktu itu gue pesen lewat gojek. hehehe…

Kuningan: Plaza Festival, Lantai Ground, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta

Americana (source: google, sorry I didn't have the picture)

Americana (source: google, sorry I didn’t have the picture)

 

4. Incontro

Pizza yang satu ini memang bukan di Jakarta sih, tapi gak ada salahnya juga kalo gue masukin ke dalam list gue kan ya? Hehehe… Kali aja kalo ke Solo mau mampir buat nyobain. Pertama kali gue tau Pizza Salmon ini diajakin adek gue. Kata dia, pizzanya enak, paling mendingan dibanding yang lain. Dan, ternyata dia bener. Salmonnya itu lho gede-gede, dan pizzanya sendiri juga renyah, kriuk-kriuk gimana gitu. Setelah nyobain, gue pun beberapa hari kemudian balik ke sana lagi.. hehehe…

Range harga kurang lebih sama seperti pstandard pizza-pizza di restaurant, 70k-150k kecuali kalo mesen yang premium, bisa dipatok sekitar 200k an. Katanya sih, kalo pizza premium itu bahan-bahannya di import dari Italy.

Lokasi Incontro ada di Hotel Alila, Solo:

Jl. Slamet Riyadi No.562, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Salmon Pizza

Salmon Pizza

Kalo suka, boleh di share lho
07
Apr

Let’s Explore Ujung Kulon!

Kali pertama gue denger kata Ujung Kulon, yang ada di benak gue saat itu adalah Badak. Yaa secara Ujung Kulon kan memang terkenal dengan penangkaran badak jawa nya hehe.

Tapi, langsung berubah ketika salah seorang temen gue bilang “Kalo pengen ke pantai deket-deket Jakarta mending ke Pulau Peucang aja.”

“Di mana itu? Anyer?” Maklum, sebagai orang yang tinggal di Jakarta, pertama kali yang terbesit di otak gue ketika  ketika ada keyword ‘Pantai deket Jakarta’ yaa cuma Anyer itu sih hehehe…

“Bukan. Peucang itu di Ujung Kulon”

“Haaaah?” Kali ini giliran gue yang mangap dengan terheran-herannya.

Selama ini selalu mengira kalo di Ujung Kulon itu hanya ada taman nasional, gak pernah tau juga kalo ada pantai yang katanya bagus dan sangat memikat dengan gradasi airnya yang cantik. Gue pun penasaran dan langsung mencari trip untuk ke Ujung Kulon.

Alhasil, gue menemukan satu trip dengan harga 775 ribu, 3 hari 2 malam dengan meeting point di Plaza Semanggi. Ok lah, berbekal kenekatan dan keberanian, akhirnya gue daftar untuk ikut trip ini.

Jarak tempuh dari Plaza Semanggi ke Ujung Kulon memakan waktu sekitar 10 jam. 7 jam untuk menuju ke Dermaga Sumur dan 3 jam sisanya untuk menyebrang ke Pulau Peucang dengan kapal.

Setelah istirahat selama beberapa jam di Dermaga Sumur, gue dan peserta trip lainnya siap menaiki kapal untuk ke Pulau Peucang. Here we go!

Ohh yaaa, gue pun dapet bonus untuk lihat pelangi dengan mata telanjang pagi itu di Dermaga Sumur. Tanpa basa -basi, gue pun langsung mengabadikan momen hihihi… Kapan lagi ya kann bisa lihat pelangi secantik ini?

 

Double Rainbow

Double Rainbow

Buat yang nggak terlalu kuat digoyang-goyang ombak, mungkin bisa minum antimo sebelum naik ke kapal karena 3 jam di kapal bisa bikin either lo muntah-muntah atau ngantuk 😐

Dan, gue pun terlalu fokus menikmati pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan ke Pulau Peucang. Kapan lagi ngerasain ‘tidur liat laut, bangun liat laut lagi?’ 😉

Menurut itenerary kami, tepat sebelum sampai di Pulau Peucang, kami dipersilahkan untuk snorkeling.

Selamat Datang di Pulau Peucang! ;)

Selamat Datang di Pulau Peucang! ;)

 

Selamat Datang di Pulau Peucang ;)

Dermaga di Pulau Peucang

Jujur, gue gak bisa renang dan cukup parno dengan air, apalagi di lautan luas begitu :O jadi yaa, gue memutuskan untuk gak snorkeling. Well, udah nyobain beraniin diri nyemplung ke laut tapi gak sampe 5 menit naik lagi ke kapal. Seriously, I still can’t conquer the fear.. Huvt…..

Sesampai di Pulau Peucang, believe it or not se geng gue (kebetulan nemu temen-temen yang langsung klop dan ngebentuk geng sendiri :p) disambut dengan monyet-monyet usil yang bawaannya pengen ngambil makanan… Serem sih tapi seru liatin mereka berebut makanan sama manusia.

Maapkeun Gak Ada Foto Monyet, Rusa pun Jadi ;)

Maapkeun Gak Ada Foto Monyet, Rusa pun Jadi ;)

Gue pun udah gak sabar pengen explore pantainya. Jernih, biruuu banget dan gradasinya itu lho bikin kesengsem dan gak peduli matahari sedang hot-hot nya. Ehemmm…

Tapi, sebelum explore kami diharuskan untuk makan siang sambil menunggu pembagian kamar. Penginapan di Ujung Kulon ini pun beragam, tapi karena gue ingin merasakan tidur bersama hewan-hewan liar, jadi penginapan gue dan yang lain berupa rumah panggung dan ‘berbagi’ dengan hewan liar.

Maksudnya, gue tidur di kamar, hewan-hewan itu tidur di bawah rumah panggung itu. Jadi, jangan kaget ya kalo tiba-tiba ada suara gruduk-gruduk di bawah. Itu karena babi nya mau bobok.. Hihihi…

Dua Babi yang Akan Berbagi Atap

Dua Babi yang Akan Berbagi Atap

Selain monyet, gue juga bertemu dengan babi dan rusa. Rusanya sih lucu, bikin gue inget sama Bambi, tapi babi nya sihhh lucu-lucu nyeremin gimana gitu. Gak kebayang aja kalo gue berebut rambutan sama dese.

Setelah makan siang, menjelang jam 2, gue pun meng-eksplor pantai di Pulau Peucang selama satu jam. Eksplor di sini berarti foto-foto ya bukan berenang. Selain gue gak bisa berenang, dan gak ada yang berenang juga sih.

DSC02802

Cantiknya Pantai di Peucang

Gak lama kemudian, kami pun bertolak ke Dermaga Cibom untuk trekking ke Tanjung Layar, yang katanya merupakan 0 KM Pulau Jawa.

Gue pikir tadinya trekking itu buat ngeliat kerumunan badak, ternyata cuma untuk ngerasain berada di titik 0 KM Pulau Jawa, tapi pemandangan yang gue lihat saat itu gak kalah bagusnya sih. Karang-karang bebatuan gede, padang rumput dan ada laut tersembunyi. Gue gak ke laut nya, cuma duduk di rerumputan sambil nikmatin suara deburan ombak… Well, it was SO great…..

Titik 0 KM Pulau Jawa

Titik 0 KM Pulau Jaws

 

Hidden Beach at Tanjung Layar

Hidden Beach at Tanjung Layar

Petualangan gue gak sampe di situ aja karena hari terakhir gue di Ujung Kulon di mulai dengan ‘berburu’ banteng dan merak di Cidaon. Eiitsss, berburu di sini maksudnya adalah melihat dan merasakan berada di hamparan padang rumput yang luas sambil melihat banteng dan merak. Sayangnya, di hari itu para banteng dan merak pada malu-malu, jadi kami pun gak melihat satupun dari mereka

Padang Cidaon

Padang Cidaon

Yaudah, jangan sedih. Mari kita move on….

Kegiatan berikutnya adalah kanoying aka cano-ing aka rowing di Sungai Ciganter. Bersama-sama kami pun menyusuri sungai dengan mendayung perahu. Seru! Bisa rasain asiknya ngedayung, dan ternyata mendayung itu capek dan berat ya… hahaha!

Row Row The Boat!

Row Row The Boat!

Trip gue yang seru itu akhirnya di tutup dengan snorkeling di Pulau Badul. Seperti biasa, gue melewati kegiatan ini karena gue masih parno dengan lautan dan gue males untuk beberes, mandi lagi….

Dan, gak kerasa petualangan gue sudah selesai. Dua hari explore Ujung Kulon membuat gue dapet banyakkk teman baru dan pengen banget belajar buat naklukin rasa takut di air. Anyway, buat yang belom pernah explore Ujung Kulon, lo kudu banget ke sini karena selain deket dari Jakarta (buat yg berdomisili di Jabodetabek) dan juga mata lo jadi terbuka, traveling itu gak selamanya melulu soal liburan ke luar negeri kok. 😉

Cheers From The Boat!

Cheers From The Boat!

 

 

 

 

 

 

Kalo suka, boleh di share lho
30
Jan

First Time Camping in Ages!

Perjalanan wiken ini sebenarnya udah kelewat, tapi gak apa lah namanya juga (sok) sibuk, baru sempet nulis sekarang ini hahah…

Kali ini gue dan teman-teman trip gue, sebut saja Indi, Dea, Mala, Ayu dan Pipin tiba-tiba beride untuk…

“Camping yuk!”

“Dimana?”

“Puncak Bintang aja…”

“Hyuuukk”

Gue yg selamaaaa bertahun2 gak pernah camping, langsung mengiyakan ajakan itu. Camping bokk… Terakhir gue kemping ituuu pas sma kelas 1.. Itupun teramat sangat kepaksa banget. Bahkan, pas smp pernah di suru kemping, gue beralasan sakit perut, dan beberapa hari kemudian beneran sakit perut. Duerrr….

Weekend trip kali ini kita lumayan cantik. Gak ada trekking nanjak ngos-ngosan lagi, gak ada sepatu kotor lagi. Eh ada sih, tapi gak banyaaak kok….

Transportasi ke Bandung nya pun nyaman banget. Hari sabtu, 23 januari kemarin kita berlima berangkat dari Stasiun Gambir menuju ke St.Bandung, tiga jam 20 menit lamanya. Ternyata lebih lama daripada naik travel, tapi gak ada macet2an sih.

Sampai di St.Bandung, kita berlima disambut oleh Dea, sang tuan rumah yg kalo ditanyain “Bandung ada apa aja ya?” jawabannya kalo gak absurd ya “hmmm” doang hahahah *pissss brohh :p

Perjalanan dari Stasiun Bandung ke Puncak Bintang pakai angkot sewaan. Hmmm kira2 sejam an kali ya.. Gue rada lupa, yg jelas ga sampe 2 jam sih.

Sampai di Puncak Bintang nya udah sore, sekitar jam 5an…. Begitu sampai, kami langsung pasang tenda di Hutan Pinus nya. Eh kami? Gue cuma bengong sambil foto2 aja sih :p, soale ndak bisa masang tenda, nanti kalo gue yg pasang, yg ada sekali senggol ambruk semua. Jadi mendingan jangan ya, gue sadar diri kok….

Berhubung hari itu pas wiken, lokasi Puncak Bintang lumayan rame. Kalo mau foto yaa antri antri dikit lah. Oh ya, sore itu disana gak terlalu dingin, tapi kalo udah mulai malem lumayan dingin, tunggu pas paginya baru berasa dingin banget brrr…

Untuk urusan makanan, kami memilih makan di bawah. Jalan sekitar 5 menit dari Puncak Bintang untuk kebawah buat nyari makan. Makanannya jangan ditanya, menu tempat wisata apalagi sih selain indomie kuah, indomie goreng, nasi goreng, mie goreng, nasi ayam2an… hehe.. Standard but okay lah.

Sebenarnya di deket Puncak Bintang itu ada satu tempat nongkrong di Bukit Moko, tapi kami gak kesana. Lebih memilih makan dibawah aja, sambil menikmati pemandangan Kota Bandung dari atas.. eheemmm….

Malemnya kegiatan kami yaaa seperti yg dilakuin orang2 kalo lagi kemping sih. Maen hp.. hahah bukan denggg…. Ngobrol ngalor ngidul, sambil minum kopi, milo anget tapi baru nyadar kalo gak bawa panci… duhh.. Untung tenda sebelah baik hati minjemin, akhirnya jadi deh ngobrol sambil minum sambil main jempol! hahaha! That was so fun! 😉

Setelah puas ngobrol, akhirnya kami memutuskan untuk tidur, mengingat besok pagi kudu beberes tenda.

Tepat jam 8 pagi keesokan harinya, kami berpindah dari Puncak Bintang menuju ke Tahura, Taman Hutan Raya. Jujur aja, gue gak ada bayangan Tahura tuh kayak apa. Gue mah anaknya suka surprais, ga suka tuh yg namanya browsing2 dulu sebelum ke tempatnya.. *padahal mah males browsing

Jam 10an lah kita sampai Tahura.. Dan baru tau tempat itu kayak hutaaaan *yaiyalah namanya juga hutan…. Di Tahura ada beberapa goa.. Maaf rada2 lupa apa aja, tapi yg gue inget cuma Goa Jepang dan Goa Belanda.

Sebenernya kalo dari pintu masuk ke goa2 itu sih gak terlalu lama jalannya, tapi karena kami suka tantangan, makanya kami trekking 4,5km untuk menuju ke air terjun curug omas…. Ngos-ngosan, ngos-ngosan deh.. Keringetan deh…. Well, air terjunnya sihh so so sihh, B aja aka biasa aja. Tapi ok lah, masa udah jauh2 ke Tahura gak ke air terjunnya… hehehe….

Badan capek, kumel, keringetan, kaki udah lemah, kami pun memutuskan turun kebawah dengan naik ojek… jeng jenggg….. Naik ojek kali ini rasanya kayak main roller coaster tapi di daratan. Udah naik motornya bertiga, jalannya curam, kerikil semua, sempit… dan si mas ojeknya malah ketawa2 liat gue dan Indi panik… Mas mas, lo meleng dikit, kita bertiga jatuhh guling2 lho 😐 anyway, akhirnya kami sampai dengan selamat di Goa Belanda.

Hari udah siang, sekitar jam 2an kami cabut dari Tahura dan langsung ke Asia Afrika dan Braga. Disana ngapain? Makan, makan dan makan hehehe… karena disana banyak stand, jadi cobain deh satu per satu makanan yg ada disana. Berhubung, kuota perut gue lumayan gede, gue pun gak puas cuma makan makanan cemilan yg ngotorin gigi doang.

Kami pun menuju ke Braga untuk makan sore, sebelum berangkat ke stasiun. Baru tahu, ternyata sederetan Braga itu kafe-kafe semua.. duhhh kemana ajaa deh gue selama ini…. Jadi pengen ntar next time kudu bisa hangout disana lagi, pasti kalo malem makin seru hehe…

Kami pun memutuskan makan di Braga Punya Cerita. Gue suka banget interiornya. Lucuk! Makanannya pun oke….

Sekitar jam setengah 6 sore, kami langsung menuju ke Stasiun Bandung dan saatnya berpisah dengan Dea… hikss….

Setelah selesai say good bye dan berbasa bass, kami pun langsung masuk ke stasiun, begitu kereta datang, kami langsung masuk ke kereta dan duduk. Capekk bangettt bokkk!! Tapi puas hehehe…

Berakhir sudah wiken trip gue minggu lalu itu. Dan, gue pun sudah merencanakan weekend trip selanjutnya, karena weekend trip itu ternyata asik ya! Lebih asik dibanding nge-mall, dinner cantik dan nongkrong cantik.. hehehe….

 

#WoodyJalanJalan at Puncak Bintang

#WoodyJalanJalan at Puncak Bintang

#WoodyJalanJalan at Air Terjun Curug Omas

#WoodyJalanJalan at Air Terjun Curug Omas

US! ;)

US! ;)

Kalo suka, boleh di share lho
23
Dec

The Baduy Weekend Trip

Di mulai dari keisengan gue ngeliat satu akun instagram, yang kebetulan pas itu lagi ngebahas tentang Baduy. Jujur aja, sebelum liat postingan itu, gue gak tau kalo ternyata Baduy itu ada di Banten. Dan sekalipun gak pernah kepikiran buat kesana.

Tapi, kali itu, gue tertarik banget. Alhasil setelah google sana sini, gue nemu paket trip yg gue mau. Tanggalnya pun cucok, affordable dan itinerary looked so challenging! SO, the adventure had begun here!

Sabtu pagi, yang biasanya gue tidur sampe jam 12 siang, kali ini gue jam 5.30am udah bangun. Yea, you read it right. Mandi, beberes, nunggu suatu transportasi berbasis aplikasi yang kadang suka nyasar nyari alamat rumah kita (maaf kepanjangan), cek hp sekedar liat ada yang nyari gak (untungnya ada :p) dan akhirnya tepat jam 7 gue udah sampai di stasiun tanah abang.

Oh iya, ini pertama kali gue ikut weekend trip dan perginya pun berbarengan dengan orang-orang yang gue sama sekali gak kenal. Meskipun gue ajak satu temen, tapi gue juga gak kenal-kenal banget lah. So, let’s say I had my first time weekend getaway with ‘strangers.’

Jadi kita bertujuh, 6 peserta dan 1 pemandu sudah siap berpetualang. Kereta dijadwalkan tepat jam 8, tapi yahh seperti biasa ngaret-ngaret dikitlah. Perjalanan dari stasiun tanah abang ke stasiun rangkas bitung memakan waktu dua jam. Dari situ untuk sampai ke Ciboleger (Baduy Luar) masih harus naik angkot selama 2 jam lagi!

Well anyway, it’s the part of experience right…..

Setelah sampai di stasiun rangkas bitung, karena masih menunggu supir angkot yang lagi makan siang, temen gue ngajakin ke warung seberang untuk beli rokok “you want to come with me?” karena gue lagi bengong jadi gue bilang “yep, let’s go..”

Tau sendiri kan kelakuan orang kita kalo liat bule? Entah kenapa gue harus ceritain satu part lucu ini.

Jadi, temen gue beli rokok di warung, karena dia ngerti bahasa indonesia, si penjaga warung pun ngajakin dia ngobrol. Anak-anak kecil yang lagi gelendotan di tepi pintu pun ikut menyahut “mister mister” “how are you?” gitu deh kira-kira. Sampai tiba-tiba ada yang teriak “mister, saya lagi hamil.. dicubit dong..” gue pun bengong beberapa detik. Dan, kemudian terbahak-bahak (dalam hati) sambil ngeliat tangan si ibu beneran dicubit. 😐

Ok, next….

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari stasiun rangkas dan dengan sedikit rasa mual, mabuk darat akhirnya gue dan teman-teman trip akhirnya sampai juga di Ciboleger. Sampai disana, kita disambut oleh orang-orang dari Baduy Luar dan dipersilahkan masuk ke rumah salah satu penduduknya, untuk makan siang dan beristirahat. Gue pun memakai momen itu buat lurusin kaki dan elus-elus perut biar mualnya udahan ceritanya :|.

Sekitar jam 3 sore, kami pun bersiap untuk trekking menuju Baduy Dalam. FYI, gue baru tau detik itu juga, ternyata untuk ke Baduy Dalam sendiri, kita harus trekking kira-kira 4 jam. Ngek ngok.. Yes, trekking.. Jalan kaki yang jalanannya bebatuan, lumpur, tanjakan, turunan dan licin. Inget, ini lagi musim hujan, jadi licinnya ngalahin pahanya ceribel.

Plan kami ialah, menginap satu malam di Baduy Dalam, dan keesokan harinya turun ke Baduy Luar dan langsung menuju stasiun rangkas untuk mengejar kereta sore ke Jakarta. Too short, but it’s fun! 

Trekking pun dimulai…

Belum ada 1 km, gue udah berkali-kali kepleset dan akhirnya terjatuh.. brukk! Untungnya, kedua tangan gue cukup lincah, nahan pantat gue supaya gak jatuh :|. Lesson for myself: next time bring trekking shoes or mountain shoes or whatever that isn’t slippery.

Perjalanan selanjutnya, gue banyak dibantu sama tiga orang porter yang berbaik hati membawakan barang-barang kita. Inget ya, di bantunya bukan berarti gue di gotong kesana kesini, tapi gue di gandeng kalo lewat ke medan yang tingkat kelicinannya lumayan tinggi. Haseeekkk…. Kapan lagi lo trekking dan di gandeng? Gandengannya ganti-gantian pula! 😀

Sekitar jam 5an, kami sudah melewati jembatan ketiga, sebelum jembatan terakhir yang memisahkan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Berhubung, teman gue itu WNA dan waktu udah sore banget, jadi dia diharuskan balik ke Baduy Luar. Sudah menjadi peraturan adat mereka, kalo WNA dilarang masuk ke Baduy Dalam. Cukup mengecewakan sih, tapi ya sudah namanya juga pengunjung, harus banget dong mentaati peraturan yang ada. Perpisahan pun terpaksa terjadi. “We’ll see you tomorrow!”

Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Mau jalan selicin apapun, tanjakan bikin kaki pengen dilepas bentar, turunan yang bikin pengen main perosotan, asal teman tripnya seru emang gak kerasa. Itu yang gue rasain selama trip kemarin. It’s exactly true when somebody said you’ll never travel alone. And my fellow travelers are beyond expectation and fun :)

Jam setengah tujuh-an, sampailah kami di kampung Baduy Dalam yang paling luar. Rasanya lega dan terbayarkan, eh jangankan udah sampai di desanya, pas liat jembatan terakhir yang memisahkan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar aja gue kegirangan setengah mati. Itu berarti, udah mau sampe dan gue udah laper. 😀

Malam itu, gue dan yang lainnya nginep di rumah salah satu porter. FYI, porternya ganteng, ok gak penting…. Basa-basi dikit, naruh barang dan langsung ke sungai untuk bersih-bersih. Gue juga baru tau, kalo ternyata kita semua dilarang pake sampo dan sabun. Itu berarti, boleh mandi tapi cuman air tok. Tau gitu gak bawa perlengkapan mandi yak 😐

Karena langit udah gelap, dan emang ga keliatan apa-apa. Bawa senter sih, tapi yah penerangan senter sama lampu kan tetep beda, jadi sama aja ga gitu keliatan apa-apa. Gue udah gerah banget, rasanya pengen telanjang trus berendam. Tapi, suasana tidak memungkinkan dan daripada yang lain pada pingsan, maka diurungkanlah niat telanjang tersebut. ngekkk…

Gak liat kanan kiri, gue langsung cuci muka dengan asyiknya, sampai gue lupa betapa asinnya air sungai itu. Iya, asin… asin banget….. Sampai keesokan harinya, gue baru ngeh.. “mana ada air sungai itu asin…. kan airnya tawar……” ja ja jadi, pipis itu rasanya asin dong ya…..

Malam sabtu gue kali ini, gue nikmatin dengan gelapnya desa yang memang gak ada listrik. Penerangan pun cuman dari lampu senter. Menu makanan sederhana tapi bisa bikin hati bahagia. Kapan lagi bisa makan nasi, tempe, sambel endes, indomie di Baduy, di rumah penduduk aselinya, beramai-ramaian dengan orang-orang yg tadinya ga gue kenal, tapi jadi deket?

You’ll get something unforgettable when you are outside your comfort zone….

Kegiatan selama di Baduy Dalam, makan, ngobrol dengan penduduk aseli, kongkow di luar rumah yang rasanya luar biasa asiknya. Padahal kalo di Jakarta, mati listrik sejam atau signal HP bapuk aja udah marah-marah, maki-maki di sosmed. Tapi disini beda, malah enjoy. Bahkan kepikiran buat pegang hp aja gak, apalagi kangen ac kamar, lha wong udah dingin banget.

Anyway, puas ngobrol dan kongkownya, puas merasakan kehangatan para suku baduy dalam menyambut para tamunya, kami pun tidur, mengisi ulang tenaga untuk trekking ke jalan pulang.. halahh….

Minggu pagi sekitar jam 7an, kami pun berpamitan dan bersiap untuk trekking pulang.. again….. Oh ya, promosi dikit, madu yang dijual Suku Baduy ituh enak loh. Itu madu dari lebah liar di hutan. Warna madunya hitam pekat, mirip kecap tapi ga sepekat kecap sih, but it tastes very nice.

Singkat cerita, udah panjang juga… Perjalanan pulang kami lancar, jam 5an sore udah balik lagi ke Stasiun Tanah Abang dan kami pun berpisah sebagai saudara. ceileeee….

Gue jadi ngerti kenapa banyak orang yg gue kenal pada suka traveling, bahkan sekedar untuk weekend trip. Well, collect experience is so much better than all those branded stuff at store ;).

Yuk, ke Baduy!

 

Even Woody really loves it there!

Even Woody really loves it there!

 

Three good looking porters originally from Baduy Dalam.

Three good looking porters originally from Baduy Dalam.

 

Adventure has begun!

Adventure has begun!

 

this boy looked at me when I was taking Woody, so I asked him to pose with Woody.

this boy looked at me when I was taking Woody, so I asked him to pose with Woody.

Kalo suka, boleh di share lho
31
Oct

Woody Jalan-Jalan

Bulan October ini ditutup dengan manisnya. Entah gue lagi hoki atau kesambet apa, tapi yang jelas gue (akhirnya) berlibur. Coyy liburaaan! Sebelumnya tiap gue plan mau weekend getaway selalu gagal, akhirnya kali ini gak gagal juga. Walaupun, gue harus meng-cancel impian gue untuk ke Ubud Writers & Readers Festival, tapi ya udah lah ya, UWRF masih ada lagi tahun depan, hihi..

Jadi, holiday kali ini ke Taipei. Uhmm, karena gue bukan travel blogger, jadi gue kayanya gak bakal nyeritain detail tentang perjalanan travel gue kesana.

Kalo ditanya, apa sih yang berkesan selama disana? Uhmmm..

Jujur sih, gue juga bingung. Selama 5 hari 4 malam (iya gue tau, kurang lama…) disana gue agak kehilangan ‘sesuatu’ uhmmm…. Dibilang gak berkesan, ya gak sih, tapi kalo berkesan banget, ya gak juga.

Yang jelas, kesan pertama saat gw sampai di kota itu adalah “eeeh kok sama kayak Jakarta”

Dari airport ke hotel kira-kira 1.5 jam an. Macet di jalan tol. Iya, lo ga salah baca. Gue juga heran, ini gue udah di negara orang atau mental balik ke Jakarta sih?

Lupakan macet.

Hari kedua gue di Taipei, not so bad. Jalan-jalan sekitar kota, ke kuburan (well, it’s actually a memorial hall of Chiang Kha Sek & Sun Yat Sen – not interested for me :p) dan nightmarket, karena waktu gue mepet, jadi ya cuman bisa di satu kota, kalo ke tempat lainnya pun cuma bisa satu tujuan aja. But, it’s okay..

Hari ketiga gue di Taipei, masih sama. Jalan-jalan sekitar kota, Taipei 101, yang katanya elevator tercepat di dunia, rasanya ya gitu deh sama aja kayak ke menara bca lantai 56 (yaa kalii..), Taipei 101 itu sendiri adalah tempat indoor dimana bisa ngeliat seluruh kota dari atas.

Bagus sih, tapi karena ekspektasi gue outdoor kayak di The Peak, Hong Kong jadi yaa kebanting deh ama khayalan gue. But, overall it’s good to know that. Malamnya, lagi-lagi kita ke Shilin Nightmarket. Oh ya, tau sendiri kan kalo traveling itu selalu gak jauh-jauh dari soal kuliner. Yep, bener banget, soal kuliner di kota ini gak kalah menarik. Lupakan diet, gak usah diitung berapa lemak yang bakal masuk ke perut lo, karena lo rugi banget kalo ampe ga rakus di Taipei.

Shilin Nightmarket itu sendiri konon pasar terbesar dan paling rame di Taiwan. Intinya yah, street food Taipei ga ada yang ngalahin sih, etapi tetep kalah sih sama siomay dan bakso ojek.. xixixi…

Buat yang demen belanja baju, mungkin ini market yang cock buat lo. Buat yang demen makan sih, pasti cocok. Mungkin tiap malem kudu kesini, cobain makananya satu-satu. Gak mau rugi kan?

Hari ketiga disana ditutup dengan ke Xi mending, the largest shopping district. Gue sih gak shopping, cuma ngikut eksis, biar kalo di tanya “Eh, pernah ke Xi mending ga?” dan gue bisa jawab “pernah, bro” gitu…

Hari keempat, hari terakhir gue disana… Gue ke Sun Moon Lake. Lagi-lagi ekspektasi gue ketinggian atau terlalu kampung. Ternyata, danau ini sama sekali gak se-sepi dan se-tradisional yang gue kira.

Tourist boat ada dimana-mana dan ga ada sampan. Gue pikir danaunya bakal kayak danau toba di uang jadul 1000 kita itu lho, banyak bebatuan trus ada sampan. Untuk bagian sampan, gue tambahin sendiri sih.

Tapi, ternyata rame banget, karena emang tempat turis sih. Jadi, gue diharuskan naik boat untuk berhenti di dua tempat.

Tempat pertama, maaf gue lupa namanya, tapi banyak temple. Tempat kedua, semacam village, banyak toko, dan ada satu kafe yang interiornya menarik banget.

Karena perjalanan dari Taipei ke Sun Moon Lake lumayan jauh, jadi malam itu ditutup dengan packing barang dan tidur di hotel.

Hari kelima, seharian di pesawat dan airport 😐

Oh ya,

Sebelum gue berangkat ke Taipei, gue menyempatkan diri satu hari bengong di Singapore. Jalan-jalan gaje, sendirian dan tidur pun sendiri juga.

Karena emang gue terlalu capek, jadi baru jam 9 malam gue pun udah angkrem di kamar, nonton tipi sambil main hape, guling-guling di kasur.

Dan,

Akhirnya,

Gue bengong sejenak, karena tiba-tiba kedenger suara “aaaaahhhh uuuhhh oooohh aaaaahh”

Untuk mastiin apakah suara itu sama seperti yang ada di pikiran gue, jadilah gue matiin TV.

Dan, suara bukannya ilang malah makin kenceng…

“aaaaaahhhh uuuuhhhh aaaaahh uuuuuuhh”

Itu suara cewek…

“hmmm” – suara cowok berdehem

“WOYYY! KALO LAGI NGEWI JANGAN KENCENG-KENCENG KALI” – ini jeritan suara gue, dalam hati tapi…

Taipei Street Food, Shilin Market

Taipei Street Food, Shilin Market

 

Selfie at Xi Mending

Selfie at Xi Mending

 

Ini gue lagi dadah dadah di Sun Moon Lake

Ini gue lagi dadah dadah di Sun Moon Lake

 

Kalo suka, boleh di share lho