Kena Toyor

RSS
Jan
24

Stand By Me

Satu hari yang paling menyenangkan ialah ketika sehari penuh itu menonton film atau acara yang bagus. Salah satu film bagus yang kemarin di tonton ialah Stand By Me. Kali ini juga akan sedikit di bahas tentang film itu tanpa sedikit pun niat untuk men-spoiler nya. Sungguh, gw ndak bermaksud sekalipun untuk being a spoiler.

Stand By Me ini bukan mengenai robot kucing berwarna biru yang kerap kita tunggu-tunggu nongol di televisi saat minggu pagi. *nah kan ketauan anak tahun berapa.. ataupun robot kucing yang bulan lalu sempat menghebohkan layar bioskop. Namun, ini Stand By Me yang di buat pada tahun 1986, diangkat dari novel Stephen King yang berjudul “The Body.”

Bertemakan coming-of-age atau akil baligh masa remaja dan persahabatan, empat orang anak berusia 12-13 tahun mengisi waktu liburan mereka untuk mencari mayat seorang teman. Perjalanan pun di mulai, dari adu mulut di antara dua orang, ledek-ledekkan di antara ke empat-empatnya, membangun tenda di hutan pada malam hari, terkena lintah di sekujur tubuh, sampai curhat tentang tekanan dari orang tua masing-masing. Rapi di jelaskan hanya dalam waktu 88 menit. Terasa begitu nyata, dan ndak cuman sekali kita terpaksa mengangguk-anggukkan kepala karena setuju.

stand by me

stand by me

“I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve,

Jesus does anyone?”

Seperti kutipan dari Stand By Me di atas, dan seperti yang dikatakan oleh seorang teman “people dont always stay, people come and go. Thats how life works, dear…” saya terpaksa setuju. Jangankan teman atau sahabat, pacar aja bisa jadi mantan, suami bisa jadi mantan suami, istri bisa jadi mantan istri, selingkuhan bisa jadi ndak jadi selingkuhan lagi lantaran bosan.

Kalo di tanya siapa sahabat lo paling dekat? Jujur saya bakal kelabakan jawabnya. Bukan lantaran saya gak ada teman, tapi rasa-rasanya setiap orang punya tugas dan masa nya sendiri. Teman sd, teman smp, teman sma, teman kuliah, teman maen, teman tidur, teman mesum. Teman kuliah biasa berdurasi 4 tahun, sesuai lamanya kuliah. Teman main, berdurasi selama masih bisa main ya kita temanan. Beda lagi dengan teman tidur, yang cuman di butuhin ketika lagi kepengen kenthu aja. Nahh kan?

Toh apa gunanya punya banyak teman tapi semuanya bermodus. Pura-pura baik, tapi di belakang suka kenthu dengan pasangan kita? Atau teman banyak tapi kalo ngumpul yang di omongin yaa ngomongin kejelekan sahabatnya sendiri. Bukannya seru, takutnya malah jadi bumerang. Mending punya dua biji tapi setia saat kita lagi down, atau hanya sekedar ingin curhat soal gebetan di tinder atau grindr.

Mungkin kesibukan diri masing-masing jugalah yang membawa kita menjadi jauh dari yang dulunya sahabat, tapi sekarang jadi sekedar ‘say hello’ . Perubahan pola pikir juga bisa menyebabkan kita jadi gak nyambung dengan mantan sahabat. Tapi, yahh begitulah namanya hidup. Ada sesuatu yang berubah, gak ada atau jarang sekali stabil. Thats how life works on, dear…..

By the way, it doesn’t mean I don’t have any close friends at all. I do have even not many, but they are quite sincere :)

nb: tulisan ini terinspirasi dari http://linimasa.com/2015/01/15/pertemanan/  :)

Kalo suka, boleh di share lho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *