Kena Toyor

RSS
Oct
09

Too Good To Be True

“Jangan terlalu percaya kalo kamu nemu sesuatu (/seseorang) too good to be true…”

Seharusnya kata-kata itu terus di ingat sampai kapan pun. Perlu di bold, biar dia ingat.

Cuma secuil kata-kata aja, tapi efeknya amat dahsyat. Sudah berkali-kali dia menemui hal yang sama, tapi herannya masih juga menanggapi dengan cara yang sama. Siapa yang salah?

Semua bermula dari sapaan singkat di sosial media.

“Hi”

“Hi juga”

“Nama kamu siapa?”

“Boleh di lihat profile aku lho ;)”

“Oh iya. Nice to meet you ya…”

Obrolan singkat cenderung basa basi pun berlanjut sampai

“Want to meet for a dinner?”

—-

Malam itu membuat dunia nya berubah. Hatinya berbunga-bunga. Jantungnya berdebar-debar. Matanya berkedip-kedip tak percaya melihat sosok hampir mendekati sempurna ada di depannya saat itu. Tanpa diminta Tuhan pun mengirimkan sosok “Almost Perfect.” Baik sekali Tuhan ini, begitu pikirnya.

Keintensitasan dalam berkomunikasi membuatnya berpikir “Almost Perfect” inilah yang bakal mengisi hati dan otaknya untuk beberapa saat. Ia tak tahu akan berapa lama, atau malah selamanya, tapi yang jelas untuk beberapa waktu ke depan.

Tak pernah sekalipun terbesit di kepalanya, jatuh cinta selang beberapa hari ketemu itu does exist. Sebelumnya Ia selalu beranggapan, jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, yang ada itu ya napsu pada pandangan pertama, Sudah jelas bukan hukumnya. Buang jauh-jauh kata jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Kali ini mungkin berbeda, atau mungkin memang bukan pada pandangan pertama. Entahlah.

Ia tak begitu paham, mengapa hatinya berdegup kencang, matanya bersinar, senyumnya mengembang setiap kali nama sosok mendekati sempurna itu muncul dilayar HP. Mungkin sesosok itu terlalu nyata, terlalu sempurna dan nyata. Ia pun jadi buta. Dan bodoh.

Yang Ia inginkan saat itu hanya mimpi indah, mimpi manis. Berusaha sekuat tenaga untuk menolak kenyataan jika sesuatu yang terlalu baik biasanya berakhir mengecewakan. Yang Ia tahu, sosok tersebut membuatnya tak ingin sedetik pun melirik ke kanan dan ke kiri, apalagi ke belakang. Yang Ia bisa, hanya memandang lurus ke sosok dambaan.

“Kamu itu jangan terlalu percaya. Selidiki dulu lah”

Ia berusaha mengelak.

“Jangan-jangan cuma PHP”

“Ada pepatah ‘We meet for a reason, either you are a blessing or a lesson’ “

Dan lagi-lagi, Ia menganggap “a blessing, not a lesson”

Sosok itu mendekati sempurna, terlalu sempurna. Flawless. Sampai-sampai Ia tak bisa melihat sedikit kekurangan yang ada pada diri sosok itu.

“Dia itu baik. Sabar. Selalu Ada. Ganteng. Kaya pula”

Itu kalimat yang diucapkannya berbulan-bulan yang lalu. Ketika hati masih terbutakan asmara. Ketika jatuh cinta segampang membuat kopi instan. Ketika cinta semanis gulali.

Berubah sekejap, 360 derajad ucapan manis berubah sepahit ampas kopi tubruk.

“Dasar playboy kacangan!” umpatnya kesal.

“Well, it’s not good if it’s too good to be true, baby!”  balasku singkat.

from google

gambarnya dari google

Kalo suka, boleh di share lho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *